Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #22

BAB 22. PUNGGUNG YANG MENJAUH

Damar kembali ke ruang makan setelah mengantar kepergian Olivia. Dia sudah menawarkan agar menginap malam ini, tetapi Olivia tetap kukuh pulang setelah tidak berhasil memenangkan hatinya lagi. 

“Masak apa? Biar Ayah bantu.” Damar mencoba mengambil alih panci dari tangan Adam, tetapi urung saat Adam cepat-cepat menggeleng.

“Panas, Yah. Cuma angetin ikan kuah kuning tadi pagi kok.” Adam buru-buru melepaskan kain lap dari gagang panci dan mengibaskannya beberapa kali sebelum menggantungnya di rak. “Masih banyak soalnya, tadi siang kan kita makan di luar.” 

“Hm.” 

Damar berdiri linglung. Sebelumnya, dia mengira akan memasak sehingga bisa menjadi pengalihan kekacauan hatinya. Karena semuanya sudah beres, dia tak tahu harus bagaimana karena sekadar bernapas normal saja terlalu menyulitkan. 

“Bisa ambilin mangkuk, Yah?” 

Permintaan Adam kembali membawa kesadaran. Damar mengambil mangkuk paling besar dari rak piring, kemudian menyiapkan enam piring. Leo dan tiga kecil ikut bergabung ke meja makan tak lama kemudian.

“Mata Ayah merah,” tukas Rachel setelah menempatkan diri di kursinya. Matanya menyipit untuk mendalami wajah Damar. 

Anak-anak ikut menoleh, tetapi Damar hanya tergelak. “Tadi kemasukan serangga. Nanti juga nggak merah lagi kok.”

“Kirain karena dipukul sama Kakak Jahat tadi,” sahut Janu. Berhasil menghentikan pergerakan Damar yang sedang menuangkan kuah ke mangkuk. 

Ari mendengus keras-keras. “Kakak tadi cantik banget, tapi jahat. Ayah jangan berteman sama dia lagi.”

“Dia baik kok.” Damar mencoba memberi penerangan, tetapi tiga kecil kompak menggeleng tidak setuju. 

“Dia kayak ayah yang dulu. Suka pukul-pukul!”

“Tukang pukul pasti jahat.”

“Betul betul betul.”

Tiga kecil menggunjing dengan berapi-api. Meskipun hatinya semakin patah karena anak-anak yang disayangi tidak menyukai Olivia, dia tidak bisa berkata banyak. Trauma mereka tidak sesederhana ungkapan. Jadi, Damar hanya tersenyum kecil atas protesan mereka. 

“Ayo kita makan.”

Damar memutus pembahasan mengenai Olivia. Untungnya, pengalihan itu berhasil. Tiga kecil segera sibuk dengan cerita yang dibawa dari taman wisata, lalu saling mengolok satu sama lain karena sempat menjerit ketakutan di beberapa wahana. 

Ruang makan itu tetap berisik, tetap hidup dengan gelak tawa. Damar ikut terbahak-bahak ketika Janu menirukan teriakan Leo di kora-kora. Namun Adam tahu, tidak seperti mulutnya, mata Damar sama sekali tidak ikut tertawa. 

***

“Kakak yang tadi … mantan Ayah itu, ya?”

Piring yang sedang dibilas, hampir tergelincir dari tangan Damar sewaktu mendengar pertanyaan Adam. Dari caranya muncul secara tiba-tiba sudah cukup mengejutkan, apalagi pertanyaan yang diberikan. 

“Eh? Oh! Iya.” Damar belingsatan, teringat kalau dia pernah tak sengaja mencurahkan isi hatinya tentang hubungannya yang kandas kepada Adam tempo lalu. 

“Ayah nggak apa-apa?”

Lihat selengkapnya