Damar memikirkan tentang betapa dinginnya tangan Olivia ketika menggenggamnya beberapa jam yang lalu. Harusnya dia tak melepaskan genggaman agar tangannya lebih hangat. Harusnya dia tetap menahan Olivia agar tak langsung kembali. Dan kini, tangan itu membeku. Seberapa erat genggaman yang dia berikan, tangan Olivia tetap membeku.
“Maaf.”
Olivia tetap tidak membalas ucapannya meski dia sudah berlutut dan menciumi tangannya yang penuh luka. Hanya suara mesin-mesin tak berperasaan yang menjawab penyesalannya.
“Maaf.”
Sejuta kata maaf yang diucap terasa sia-sia karena perempuannya tidak kunjung membuka mata. Setelah menjalani operasi yang panjang, Olivia masih terlelap dengan bantuan kabel-kabel yang menempel di seluruh tubuhnya.
Perempuannya yang cerewet dan selalu terlihat kuat nan tangguh itu sedang tergeletak tak berdaya. Dan, semua karena salahnya. Memang sudah tepat Olivia mengakhiri hubungan mereka. Dia benar-benar menghambat masa depannya, bahkan kini … merusak seluruh hidupnya.
“Damar.”
Kepalanya menengadah saat merasakan cengkraman kuat di bahu kanan. Perempuan dengan mata bulat seperti Olivia sedang menariknya untuk berhenti berlutut. Isakannya makin kuat karena biar pun mata itu terlihat lebih senja, tetap mengingatkannya kepada Olivia yang sering menatapnya penuh cinta.
“Jangan seperti ini. Olivia pasti nggak mau ngeliat kamu sehancur ini.”
“Saya memang pantas hancur, Ma. Seharusnya saya yang hancur, bukan Olivia.”
Damar tidak pernah memiliki sosok ibu. Sejak lahir, dia sudah berada di panti asuhan dengan pengasuh yang sering berganti di tiap bulannya. Dia hanya diajarkan memanggil mereka “Mbak”. Saat diadopsi pun, Ferdi adalah orang tua tunggal. Dia baru bisa memanggil “Mama” saat Olivia memperkenalkannya kepada ibundanya, Azizah. Dan perempuan di hadapannya inilah yang menjadi satu-satunya mama di hidupnya.
“Nggak boleh ada yang hancur, Damar.”
Bu Azizah kembali menepuk-nepuk bahu Damar dengan tangannya yang lemah. Dia pun sudah kehabisan tenaga karena terlalu banyak menangis sejak mendengar kabar kecelakaan putrinya.
“Memang ini sudah takdirnya. Kita hanya bisa berdoa.”
Berjam-jam di kursi tunggu telah memberinya waktu untuk berdamai dengan kenyataan, meski belum sepenuhnya menerima. Meski sesaat yang lalu emosinya meledak saat melihat Damar. Namun, kemarahan itu tak lagi terasa setajam tadi ketika Damar terus berlutut selama tiga jam.
“Oliv pasti bisa bertahan. Dia satu-satunya yang saya miliki. Dia nggak mungkin tega ninggalin mamanya.”
“Maaf, Ma.”
Damar ingin kembali berlutut, tetapi Bu Azizah menahan tubuhnya dengan gelengan cepat. “Enggak. Saya minta maaf karena tadi menyalahkanmu. Saya terlalu emosi.”
Mama bisa menyalahkanku, hatinya berteriak. Seandainya dia mampu menahan Olivia, kecelakaan ini tidak akan terjadi. Dia sudah menyakiti hati orang yang paling dicintai, juga menghancurkan hidupnya.
“Saya tahu Oliv pasti punya alasan menemuimu lagi setelah memutuskanmu.” Bu Azizah memberi sapuan hangat di punggungnya.
Tanda penenang itu terasa tak pantas diterima ketika Damar tahu kalau Bu Azizah yang lebih membutuhkan kekuatan.
“Dia … dia menemui saya karena ingin kami memulai hubungan lagi.” Suaranya serak, tak sanggup untuk berbicara lagi. Terutama saat ada kilatan hidup di wajah Bu Azizah.
“Ya? Jadi kalian balikan?”
Damar menggeleng dengan berat. Secercah harapan yang sempat hinggap di mata senja Bu Azizah kembali terpendam.
“Maaf, Ma.”
“Kamu pasti punya alasannya.” Tangan yang penuh kerutan itu kembali menepuk-nepuk punggung Damar. “Mama paham. Apalagi memang anak saya yang mutusin hubungan kalian secara sepihak.”
Hubungan Olivia dengan ibunya memang sangat erat, jadi Damar sudah mengira kalau Bu Azizah mengetahui segala perkembangan hubungan mereka.
“Saya nggak mau balikan bukan karena saya masih sakit hati sama Olivia, Ma. Tapi karena saya sudah punya anak.”