Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #24

BAB 24. JANJI YANG TAK SAMPAI

“Damar ….”

Damar menegakkan punggung ketika merasakan tepukan di bahu. Kelopak mata yang sebelumnya melekat seperti dilem, langsung terbuka lebar-lebar. Pandangannya langsung tertuju kepada Olivia yang ternyata masih tersesat dalam komanya. 

“Maaf aku ketiduran, Ma.” 

Damar melempar senyum sungkan kepada Bu Azizah. Padahal beberapa jam lalu, dia yang menawarkan diri menjaga Olivia selama Bu Azizah kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang. 

“Kamu pulang aja, Damar. Jangan sampai kamu tumbang juga. Besok baru ke sini lagi.”

Ucapan Bu Azizah segera dijawab dengan gelengan. “Aku pengen tetep di sisi Oliv, Ma. Kalau dia sadar tanpa ada aku, gimana?”

Dia sudah cukup mengecewakan Olivia sebelum kecelakaan terjadi. Tidak mungkin dia kembali membuat perempuannya bersedih.

“Kalau ada tanda-tanda kesadaran, Mama akan langsung hubungi.”

Bu Azizah menarik tangan Damar agar lekas beranjak dari duduk. Damar belum sempat menyela, tetapi punggungnya terus didorong paksa agar keluar dari ruang rawat. 

“Istirahat. Matamu itu udah ngalahin panda. Mama nggak mau lihat anak Mama yang lain ikutan ambruk.”

Anak Mama.

Bagaimana bisa Bu Azizah masih menganggapnya sebagai anak setelah dia menyakiti putri kesayangannya? 

“Ma—”

“Besok kamu bisa kesini lagi. Oke?”

Damar mengangguk sekali sebelum membalikkan tubuhnya menjauhi Bu Azizah. Dia takut air matanya kembali tak tertahankan dan semakin membuat perih keadaan. Dia tidak boleh memperlihatkan kehancurannya di depan orang yang lebih rapuh.

Apartemen yang sudah dua bulan tidak tersentuh akhirnya menjadi tempat pulang. Biasanya, ada sorakan dan binar bahagia yang menyambut ketika dia membuka pintu, tetapi kini hanya ada sepi yang menyapa. Tempat ini begitu dingin tanpa adanya kehangatan yang ditawarkan dari tawa anak-anak. 

Setelah mengempaskan diri ke sofa, Damar meraih ponselnya dan baru menyadari ada panggilan tak terjawab dari Adam dua jam yang lalu.

Dengan cepat dia kembali menghubungi nomor Adam, tetapi tidak ada jawaban. Sekarang memang sudah tengah malam, jadi mereka pasti tidur. 

Harusnya tadi dia tidak tidur. Kenapa pula fisiknya jadi sangat payah? 

“Maaf Ayah baru cek HP. Kalau sudah bangun, telepon Ayah ya besok pagi.”

Setelah mengirim pesan kepada Adam, dia kembali menggulir pesan untuk mencari kolom obrolan dengan Pak Saba. Ada pesan baru tiga puluh menit yang lalu. Dia pun segera menekan panggilan karena merasa Pak Saba masih terjaga.

“Ya, Damar?”

Damar bisa menghela napas lebih lega karena panggilan kali ini berhasil. 

“Jadi, besok belum bisa pulang, Pak?” Damar bertanya,memastikan informasi yang baru dia baca dari pesan Pak Saba sebelumnya. 

“Iya, besok belum bisa. Tapi saya bisa hadir di persidangan lusa.”

Damar memijat sela alisnya. Ingin menego lagi, tetapi dia sudah cukup merepotkan Pak Saba yang sudah memangkas perjalanan dinasnya menjadi lebih cepat. 

“Tolong mampir ke anak-anak dulu sebelum sidang ya, Pak. Saya pengen tahu keadaan anak-anak, soalnya dari tadi belum berhasil telponan sama Adam.” 

Alhasil, hanya itu yang bisa dikatakan. 

“Siap. Pasti saya cek anak-anak. Kamu bisa pasrahin mereka ke saya selama kamu di Jakarta.”

“Terima kasih, Pak.”

Saat panggilan berakhir, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Damar tetap di posisinya dengan mata yang terbang ke langit-langit. Kepalanya sangat berisik hingga dia tidak bisa mengurai benangnya satu per satu. 

“Ayah! Ayah!”

“Aduh!”

Suara gedebuk keras yang diikuti rintihan Damar membuat ruang tengah yang hening akhirnya menunjukkan kehidupan. Damar mengelus-elus pantatnya yang baru melakukan pendaratan mendadak. 

“Sejak kapan ketiduran?” 

Lihat selengkapnya