“Ayah, kapan kita ke Jakarta?”
Damar tak bisa menghentikan segala memori tentang anak-anak. Setiap senyum, tawa, dan ucapan mereka terus berdatangan silih-berganti selama mobil yang ditumpangi menembus tol.
Jika saja… jika saja dia mengajak anak-anak ke Jakarta malam itu. Jika saja dia tidak meninggalkan mereka, mungkin anak-anak tidak akan menghilang.
“Pak, bisa lebih cepet lagi?” Damar memohon dengan resah kepada Pak Juned, sopir yang disewa Bu Azizah untuk mengantarnya kembali ke Semarang.
“Mama nggak akan biarin kamu mengemudi dalam keadaan panik.”
Dia tidak mungkin membangkan pesan Bu Azizah yang turut pucat setelah melihatnya menangis terisak-isak karena kabar anak-anak. Dia memang berniat mengemudikan mobilnya secepat mungkin jika tidak dihalangi Bu Azizah.
Selama perjalanan, Damar terus berkomunikasi dengan Pak Saba yang membantu mencari di area lingkungan dan bertanya kepada beberapa tetangga. Namun, mereka masih belum mendapatkan titik terang.
Nomor Adam juga sudah tidak bisa dihubungi. Pesan terakhir yang dia kirim tadi pagi masih belum dibaca. Tangisnya kembali pecah saat melihat riwayat panggilan tak terjawab dari Adam semalam. Harusnya dia menjawab telepon itu. Pasti Adam ingin mengatakan hal yang penting.
Ketika mobil sudah berhenti di pekarangan setelah menempuh perjalanan lebih cepat satu jam dari seharusnya, Damar tak bisa menahan kakinya untuk merangsek ke dalam rumah. Pak Saba mencoba menenangkan, tetapi dia terus membuka satu per satu kamar anak-anak.
Tubuh Damar sepenuhnya ambruk di depan lemari yang penuh stiker Anna dan Elsa. Isi lemari itu benar-benar kosong, bahkan tak meninggalkan setitik pun debu.
“Kemana … kalian kemana?”
Pak Saba mencoba menopang tubuh Damar dari belakang, tetapi tak membantu banyak karena dunianya kini benar-benar hancur berserakan.
“Saya sudah tanya ke tetangga sebelah dan Pak RT, tetapi mereka juga nggak tahu, Dam. Saya sudah coba keliling dan mendatangi sekolah mereka, tapi kata guru-gurunya mereka sudah nggak datang ke sekolah dari kemarin.” Penjelasan Pak Saba membuat tangisnya makin tak terkendali.
Apa anak-anak marah padanya karena merasa ditinggalkan? Apa mereka sedang protes dan akan kembali nanti? Atau, ada penculik yang menerobos rumah?
Damar langsung mencengkeram tangan Pak Saba saat sebuah pemikiran datang. Penculik. Bisa jadi ada orang yang benar-benar datang membawa mereka.
“Ayo lapor ke polisi, Pak. Aku takut mereka diculik. Gimana … gimana kalau ayah kandung mereka yang kejam itu datang dan bawa mereka?”
Damar merasa bodoh dan kecolongan. Harusnya malam itu dia mengajak mereka ke Jakarta bersama-sama, tetapi keterkejutan dan khawatir yang mendalam telah memakan kewarasannya hingga meninggalkan anak-anak di rumah.