Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #26

BAB 26. YANG BELUM SELESAI

Tujuh bulan berlalu.

Waktu selalu pandai menyembunyikan luka di balik kesibukan. Setidaknya, begitu yang selalu Damar yakini setiap kali membuka pintu apartemennya yang sunyi.

Satu hari berlalu lagi tanpa disadari. 

Ada sup ayam yang sudah dingin di meja makan. Damar menduga Bu Azizah mampir tadi sore. Dia mengambil secarik catatan yang tersimpan di sebelah mangkuk. 

Hangatin sebelum makan.

Ujung bibirnya melengkung sedikit. Untuk beberapa saat, dia disibukkan dengan menghangatkan makanan dan merapikan isi kulkas. Jus buah yang hampir kadaluwarsa segera dihabiskan dalam sekali teguk. Beberapa kotak makan juga sudah kosong sehingga dia mengeluarkan semuanya untuk dibersihkan. 

Sebentar lagi, pemilik kotak-kotak ini akan datang untuk membawanya kembali untuk diisi ulang keesokan harinya. 

“Udah habis semua?”

Damar mematikan keran wastafel, lalu tersenyum untuk menyambut kedatangannya. “Kalau nggak habis kamu sama Mama pasti ngomelin aku seminggu.”

Olivia menyodorkan dua ibu jarinya, lalu menghilangkan jarak yang tersisa dengan Damar untuk mendapatkan pelukan.

“Capek?” tanya Damar. 

Olivia mengangguk-angguk. Pelukan Damar makin menguat. Pengisian energi setelah seharian bekerja dengan berpelukan memang sudah menjadi kebiasaan mereka.

“Harusnya kamu nggak lembur. Kan aku udah bilang—”

“Kalau aku nggak boleh kecapekan karena baru sembuh.”  Olivia menyempurnakan omelan Damar yang sudah melekat di otaknya. “Please, aku udah setengah tahun siuman. I’m fine now!

Pelukan itu terlepas dengan menampakkan wajah Olivia yang cemberut total. Damar terkekeh, lalu menarik kedua pipi perempuannya hingga bibir yang mencucu itu menjadi garis lengkung. 

“Aku cuma nggak mau kehilangan kamu.”

Meskipun diucapkan dengan sirat jenaka, Olivia tetap menangkap kilatan takut di mata Damar. Dia menyentuh kedua tangan Damar yang masih bernaung di pipinya, lalu mencium punggung tangannya satu per satu.

“I'm not going anywhere. I promise.”

Damar tak pernah lupa betapa putus asanya ketika menanti Olivia membuka mata. Jika Bu Azizah tidak berada di sisinya, mungkin dia akan kehilangan akal sehat. Di titik itu, dia yakin kalau hati seorang ibu memanglah terbuat dari baja. Bukan seperti dirinya, yang bahkan telah gagal melindungi orang-orang penting di hidupnya. 

Btw, si Windy nikah Sabtu besok.” 

Celetukan Olivia melenyapkan memori yang sempat hinggap. Matanya bahkan melebar atas kabar itu. 

“Oh, ya? Wow! Congrats! Jadi sama cowok bingungnya itu?” tanyanya dengan tawa kecil, tapi Olivia membalas dengan tawa yang lebih besar. 

Windy itu teman kantor Olivia. Selama tiga tahun ini, mereka selalu menjadi tempat pembuangan keluh kesah Windy tentang kekasihnya yang tak kunjung memberi kejelasan. 

Alhamdulillah udah nggak bingung lagi, makanya nikah mereka.”

“Kesabaran Windy membuahkan hasil juga ya akhirnya.”

“Tapi pesta pernikahannya di Gunungkidul, Sayang.”

Kening Damar mengerut. “Nggak di Jakarta?”

“Enggak. Windy mau di dekat kampung halamannya. Kalau gitu Sabtu besok kita ke Gunungkidul, ya. Apa berangkat Jumat sore aja? Sekalian staycation. Udah lama kita nggak liburan.”

Sejak Olivia membuka mata dan baru bisa beraktivitas normal tiga bulan ini, mereka memang belum sempat liburan. Setelah rutin menjalani terapi, Olivia tidak sabar memulai kehidupan normalnya di kantor. Begitu pula Damar yang sudah menemukan pekerjaan baru dan tenggelam dalam berbagai proyek.

Lihat selengkapnya