Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #27

BAB 27. MENJELANG SELAMANYA

“Mama lagi arisan, Damar. Tadi Olivia pergi sama temannya ke Gunungkidul.”

Satu pesan balasan dari Bu Azizah tidak membantu menenangkan Damar. Ternyata Olivia pun membohongi mamanya. 

Butuh waktu tiga jam untuk sampai ke lokasi pernikahan Windy. Dan, dia bisa gila kalau tidak mendapat kabar dari Olivia selama itu. 

Salahnya karena tidak bisa menemani. Salahnya karena tidak mengecek ulang kepada Gea. Dia hampir lupa kalau Olivia adalah perempuan pemberani. Sejak kecelakaan, dia memang lebih menurut, bahkan saat Damar mengekang perkara izin mengemudi dan apa pun yang menyangkut keselamatannya. 

Mungkin Olivia sudah menghadapi titik muak atas sikapnya. Mungkin Olivia benci karena menjadi perempuan lemah yang bahkan tidak bisa ke mana-mana sendiri. Semua ini salahnya karena tidak bisa memahami kekasihnya. 

Lautan lepas menyapanya ketika memarkirkan mobil. Resor yang berdiri di atas tebing itu menghadap lurus ke hamparan Samudra Hindia. Jika dalam keadaan normal, dia akan termenung selama beberapa waktu demi melihat indahnya matahari saat mencumbu laut. Tetapi, sekarang Olivia adalah prioritas utamanya.

Dia segera menyibak beberapa tamu yang hadir demi menemukan perempuannya. Ada beberapa sosok familiar yang terlihat, mereka adalah kolega Olivia dan Windy, tetapi dia tidak menemukan Olivia bahkan setelah menyusuri hampir seluruh venue

Dia hampir naik ke podium dan merebut mikrofon penyanyi yang sedang mengumandangkan lagu cinta untuk meneriakkan nama Olivia. Namun, sebelum kegilaan itu benar-benar terjadi, netranya telah lebih dulu menemukan sosok yang dicari-cari. 

Olivia sedang berdiri di sudut resor. Terlihat mengasingkan diri dari para tamu yang saling bercengkerama dengan hangat. Matanya hanya menuju pada setitik sinar matahari yang hampir menghilang di dalam lautan. 

“Sayang.”

Damar bisa merasakan tubuh Olivia menegang saat menerima pelukannya yang tiba-tiba. Dia buru-buru berbalik dan menatapnya dengan kebingungan.

“Damar?! Kamu kok bisa sampai sini? Katanya mau ketemu sama anak-anak?”

“Kenapa kamu nggak bisa dihubungi? Kamu ke sini nyetir sendiri?” Damar membalik pertanyaan dengan lebih panik. 

Olivia mengernyit dan menggeleng cepat. “Nggak kok. Aku naik kereta.” 

Segala kekhawatiran yang semula mengimpit dadanya menguap tak bersisa. Damar meluruhkan kepalanya ke bahu Olivia kala napasnya menjadi lebih lega. 

“Kok nggak bilang?” tanyanya dengan suara yang lirih. Tenaganya terasa habis tersedot oleh kecemasan yang sejak tadi menguasai dirinya. “Aku panik banget pas Gea tiba-tiba nelpon dan tahu ternyata kamu berangkat ke sini sendiri.”

“Kalau aku berangkat sendiri, takut nggak kamu izinin,” balas Olivia. 

Dia mendorong tubuh Damar demi melihat lebih jelas wajah kekasihnya. “Jadi, karena itu kamu langsung nyusul?”

Damar mengangguk-angguk. Dia mengelus puncak kepala Olivia, lalu menyentuh pipi, lengan, dan memutar tubuhnya. 

“Kamu nggak apa-apa, kan?”

“Aku nggak apa-apa!”

Olivia terkekeh dan menghentikan Damar sebelum kehebohannya memantik perhatian tamu undangan. Tetapi, Damar terlihat tak peduli dengan pendapat orang lain karena kini dia malah terisak dalam pelukannya. 

“Syukurlah. Syukurlah.”

Olivia tersentak. Tak mengira kebohongan kecilnya akan membuat Damar terlihat sehancur ini. Padahal, dia hanya tak ingin menyusahkan Damar yang sedang dalam misi pencarian anak-anak. 

Sejak siuman, dia tahu kalau hidup Damar sudah berotasi ke lima anak yang menghilang. Meskipun Damar selalu di sisinya, dia bukanlah Damar yang dulu. Jadi, saat melihat Damar menangis karena mengkhawatirkannya, dia baru sadar kalau posisinya mungkin masih penting dalam hidup Damar.

“Tolong, jangan bikin jantungan lagi,” pintanya.

Olivia mengangguk kecil. Menahan diri untuk tak ikut menangis. “Maaf.”

“Terus kenapa nggak bisa dihubungi?”

Olivia meraih ponselnya dan menjulurkan ke hadapan Damar. “Susah sinyal di sini.”

Damar meringis. Kembali lega karena pemikirannya tentang Olivia yang sengaja tak mengabari karena muak padanya tak betul-betul terjadi. Olivia masih menyayanginya. Dia masih bisa memeluk perempuannya dengan penuh cinta. 

“Indah, ya,” bisiknya, mengacu pada pemandangan di hadapannya; laut, langit, dan Olivia.

Lautan lepas yang terbentang di hadapan mereka terlihat berkilauan karena sinar rembulan. Deburan ombak yang menggulung-gulung bagaikan ritme jantung Damar selama Olivia di dalam pelukan. 

“Damar.”

“Hm?”

Lihat selengkapnya