Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #28

BAB 28. HARI SEGALANYA BERMULA

“Kak Adam?”

Leo mengucek matanya saat mendapati Adam duduk termangu di ruang tamu. Lingkaran hitam di matanya, juga pandangan kosong yang tersirat membuat Leo hampir melompat kaget karena mengira Adam sebagai makhluk halus. 

“Kakak ngapain di sini?” Dia bertanya selagi ikut mengambil duduk di sebelahnya.

“Ayah.” 

Adam hanya berkata satu kata dengan mata yang masih menatap lurus-lurus ke pintu. 

Leo mengernyit. “Ayah kenapa?”

“Ayah pergi.”

“Pergi?”

Kantuk yang semula melekat di wajahnya langsung menghilang. Retinanya mulai bergetar panik. Dia membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

“Pergi kemana? Ayah pergi kemana?”

“Katanya akan kembali.”

Jawaban yang diberikan Adam tidak sesuai dengan pertanyaan yang diberikan, tetapi sudah cukup menjelaskan kalau Adam pun tak tahu harus menjawab apa.

“Kapan Ayah pulang?” suara Leo mulai terdengar mencicit seperti anak ayam. 

Adam mengangkat kedua bahu. “Mungkin dua hari lagi, atau lusa … atau seminggu ….”

Dia mengulang apa yang Damar katakan padanya sebelum menghilang di balik pintu, lalu kembali menyangsikan jawaban itu. 

“Kenapa tiba-tiba pergi? Ayah nggak ninggalin kita, kan?” 

Leo mencengkeram lengan Adam, tapi Adam pun masih tak berkutik. Sejak Damar pergi tiga jam yang lalu, benaknya juga terus menanyakan hal yang sama. Kilasan memori tentang Damar dan mantan kekasihnya terus berkecamuk. Ada teriakan kencang di benaknya yang mengatakan Damar pergi untuk menyusul perempuan itu. Dan dia tidak bisa menahan ketakutan yang menyeruak kala berpikir Damar lebih memilih perempuan itu dibanding dia dan adik-adiknya.

“Dia sudah berjanji.”

Hanya itu yang bisa dia katakan untuk menenangkan Leo, juga dirinya sendiri. 

Damar berjanji saat memutuskan menjadi ayah mereka. Dia juga berjanji akan kembali. Dia ingin percaya kalau ayahnya bukanlah seorang yang ingkar. 

Leo menurunkan tangannya atas jawaban yang lagi-lagi tidak menjamin kepastian. Pada akhirnya, mereka tak benar-benar tahu tentang Damar. 

“Adik-adik gimana?” tanya Leo. 

“Bilang aja—” Adam menghela napas panjang. “Ayah kerja.”

Alasan itu pernah digunakan saat mengira Damar memilih pergi. Dan kini, dia bisa mendaur ulang alasan yang sama. 

“Ayah mana, Kak?”

Namun, Adam dan Leo tetap membeku saat Rachel bertanya setelah menguap lebar-lebar. Mereka memilih menyibukkan diri dengan menyiapkan makanan alih-alih memberi jawaban.

“Masih tidur, ya?” tebak Janu. 

“Tumben belum bangun?” Ari menyahut.

“Kita bangunin yuk!” Janu melompat dari kursi dan mulai mengomando.

“Ayooo!” Ari dan Rachel berseru riang saat berjalan menuju pintu belakang. 

Leo buru-buru mencegat. “Ayah nggak di kamarnya.” 

“Eeeh? Terus di mana?” tanya ketiganya, bersamaan.

“Ayah kerja.”

Adam yang sedang mengaduk sup akhirnya menyahuti. Meski dia tak berani mengatakan kebohongan itu sambil menatap mata adik-adiknya.

“Biasanya Ayah kerja di rumah,” gerutu Janu saat Leo kembali menarik mereka agar masuk dan bersiap sarapan. 

“Masa Ayah berangkat kerja nggak bilang-bilang ke kita sih.” Janu masih terus mengomel dan dibumbui dengan sorakan kecewa dari Ari dan Rachel. 

“Ada panggilan mendadak,” balas Leo, pada akhirnya mengikut skenario. 

Lihat selengkapnya