Damar menyadari orang-orang sudah mengerubungi mereka dan menjadikan tangisannya sebagai tontonan. Namun, dia tak bisa menghentikan raungannya ketika pencarian selama tujuh bulan akhirnya menemukan titik terang.
“Kalian—kalian kenapa bisa di sini? Ini … kenapa? Apa yang terjadi?” suaranya tercekat, tenggorokannya pun terasa pahit dan tersayat-sayat setiap menelan ludah saat melihat kondisi Adam dan Leo yang mengenaskan. Mereka terlihat sangat rentan dengan lebam yang tercetak di hampir seluruh tubuh.
Olivia yang berdiri di sisinya berusaha menenangkan dengan mengelus punggungnya yang bergetar, meski dia pun ikut menangis melihat kondisi Adam dan Leo. Dia hanya bertemu mereka satu kali dan sesaat saja, tetapi bisa melihat betapa besar perubahan fisik yang terjadi.
“Ayah nyari kalian selama tujuh bulan ini. Ayah nggak tahu kalau kalian di sini. Ayah udah ngelilingin seluruh Semarang … tapi … tapi ternyata kalian di sini.”
Di saat dia merelakan jadwal kunjungan ke panti asuhan, takdir membawanya ke pertemuan yang dinanti-nanti. Di tempat yang tak pernah terpikirkan olehnya.
Tangan Damar makin bergetar saat menyentuh mata kanan Adam yang membiru, lalu menggenggam lengan Leo yang lemah. Air mata kembali menghujani wajah saat teringat kalau tangan itu selalu bergerak lincah setiap kali bola basket berada di tangannya.
“Ayah nyari kami?” tanya Leo.
Damar mengangguk berkali-kali. “Tentu saja! Ayah nggak pernah berhenti nyari kalian ….”
Leo kembali memeluknya, sedangkan Adam hanya berdiri mematung dengan bahu yang naik turun. Damar tahu, sekali anak sulungnya menangis akan sulit untuk menghentikannya. Jadi, Damar ikut menariknya dalam dekapan.
“Ayah sudah di sini. Ayah sudah di sini. Maaf karena baru datang,” lirihnya berulang-ulang. “Maaf. Maaf. Maafin Ayah.”
Damar mengelus rambut mereka satu per satu dengan permintaan maaf yang yang tak pernah putus. Meski dia tahu kalau kata maaf itu tak akan bisa menggantikan penderitaan yang mereka alami selama tujuh bulan menghilang dari radarnya.
“Mana adik-adik? Janu? Ari? Rachel? Ayah pengin ketemu mereka,” ucapnya setelah berusaha menghentikan isak tangis.
Adam dan Leo saling berpandangan. Tatapan mereka membuat dada Damar makin sesak. Dia tidak siap dengan apapun yang akan didengar. Tetapi, jawaban yang Damar tunggu tak kunjung datang. Adam justru berbalik, diikuti Leo yang mengangguk kecil padanya seolah memberi isyarat agar dia mengikuti mereka.
Damar menoleh pada Olivia yang turut memberi anggukan. Olivia menggenggam tangan Damar erat-erat untuk menyalurkan kekuatan selama mereka berjalan keluar dari Pasar Beringharjo. Perlahan, orang-orang yang semula mengerubungi mulai membubarkan diri.
Mata Damar sudah memerah karena terlalu banyak menangis, tetapi air matanya tetap luruh lagi saat melihat Adam dan Leo menurunkan barang yang dipikul ke mobil bak terbuka dengan mendapatkan upah yang tak seberapa.
“Saya nunggu di sini dari tadi! Lama banget jalannya! Masih muda tapi nggak ada tenaga!” Perempuan paruh baya berkerudung merah yang menunggu di sebelah mobil memaki-maki Adam dan Leo sebelum masuk ke mobil.
Damar langsung maju untuk menyusulnya, tetapi Adam segera menahan lengannya. “Nggak apa, Yah. Udah biasa.”
Ucapan Adam malah menambah kemarahan Damar. Dia benci melihat anak-anak terbiasa diperlakukan buruk oleh orang lain. Pada akhirnya, kekesalan itu hanya keluar melalui dengusan keras sebelum dia kembali mengekor Adam dan Leo yang terus berjalan menuju kawasan Titik Nol Kilometer.
Damar ingin bertanya kenapa Adam dan Leo membawanya ke area ini, tetapi Adam sudah menunjuk ke satu titik sebelum suaranya sempat keluar.
Di simpang besar dengan lampu merah yang penuh sesak dengan kendaraan, Damar menemukan bintang-bintang lainnya yang menghilang.
Kakinya begitu kaku saat menatap Janu dan Ari yang berjalan dari satu mobil ke mobil yang lain dengan menabuh ember plastik. Jika saja dia tak memperhatikan mereka dengan jelas, sudah pasti Damar tak menyadari kalau dua anak yang sedang mengemis itu adalah Janu dan Ari.
Dia ingin lari.