Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #30

BAB 30. RUMAH AMAN

“Ayah, kita dimana?”

Janu mengeratkan tautan di leher Damar saat hidungnya menghirup aroma tidak menyenangkan. Dahinya berkerut saat mencoba menerka-nerka tempat yang sedang mereka kunjungi.

“Di rumah sakit, Janu,” jawab Damar dengan suara serak sisa menangis lama. “Biar dokter periksa keadaan kalian dulu,” lanjutnya.

Rachel yang berada di gendongan depan menggeleng pelan. “Nanti aku disuntik dong, Yah.”

“Enggak. Dokter cuma mau lihat luka aja kok.” Damar mencoba menenangkan dengan memberi senyuman hangat pada Rachel yang sedang menyembunyikan wajah di dadanya. 

Dia pun menoleh ke kanan dan kiri, memastikan Leo dan Adam berada dalam pengawasannya. Sementara itu, Olivia berjalan di belakang sambil mendorong Ari di kursi roda. 

Mereka masuk ke IGD secara bersamaan hingga menarik perhatian beberapa orang. Dua perawat segera menghampiri dan mengarahkan mereka ke lima bed pemeriksaan yang berjajar di ujung ruangan. Beruntung, suasana IGD pagi itu masih lengang sehingga seluruh anak bisa langsung mendapatkan tempat.

Damar menurunkan Rachel terlebih dahulu, lalu membantu Janu terbaring di bed. Cengkeraman tangan Janu masih tak terlepas dari lengannya sehingga Damar memutuskan untuk duduk di sebelah Janu. 

“Ayah, kita nggak apa-apa kok.” Leo yang terbaring di bed sebelah Janu berkata dengan takut-takut. Matanya melirik gusar ke arah pintu. “Kita pergi sekarang aja, Yah. Gimana kalau dia bisa tahu kita di sini?”

Ucapan Leo disambut anggukan Adam dan tiga kecil.

“Iya, Yah. Ayo kita pulang aja,” pinta mereka hampir bersamaan. 

Damar mengerti kekhawatiran anak-anak, tetapi mereka harus mendapatkan perawatan secepatnya sebelum luka-luka di tubuh mereka bertambah parah. Dia pun memerlukan hasil visum sebagai bukti penyiksaan yang dilakukan ayah kandung mereka.

“Tenang. Dia nggak akan bisa bawa kalian lagi. Ayah sudah di sini. Kalian aman,” ucap Damar sambil terus menyuguhkan senyuman. Berharap, anak-anak bisa ikut tenang dan percaya padanya.

Ari masih terlihat ragu. “Aku takut Ayah ikut dipukul.”

“Ayah bisa berantem kok. Ayah nggak akan kalah kalau adu pukul,” kelakarnya.

Namun, jawaban Damar yang semula diniatkan sebagai candaan untuk mencairkan suasana justru membuat ruangan semakin sunyi. Anak-anak memandangnya dengan penuh kekhawatiran. Ketakutan yang memenuhi mata mereka tak kunjung memudar. 

“Dia kejam, Yah.” Adam menyahut lirih. Raut wajahnya begitu sayu. “Sangat kejam.”

“Tenang aja. Ayah kalian dulu juara taekwondo.” Olivia yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. “Dia bisa hajar lawan dalam sekali tendang.”

Anak-anak saling berpandangan, kecuali Janu yang terus mencengkram tangan Damar. 

Tak lama kemudian, percakapan mereka terhenti ketika dokter jaga datang bersama beberapa perawat. Dokter perempuan yang masih terlihat mudah itu menghampiri bed anak-anak satu per satu. 

“Kita periksa dulu, ya,” katanya dengan lembut. “Nggak perlu takut. Bu dokter nggak gigit,” imbuhnya saat melihat Rachel yang langsung menciut begitu dia mendekat. 

Dokter itu memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, hingga luka-luka yang memenuhi lengan, kaki, dan wajah. 

“Argh.” Adam merintih saat dokter menekan perutnya. 

Begitu bajunya disingkap, terlihat lebam-lebam keunguan yang memenuhi perut hingga dadanya. Damar berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis saat menyadari bekas luka mereka lebih banyak dari perkiraan, tetapi pertahannya sia-sia kala melihat luka Adam. 

Semakin lama, raut wajah para tenaga medis itu pun juga berubah. Seorang perawat bahkan menghentikan tangannya sejenak ketika menggulung celana Ari. Tulang kakinya tampak menonjol tidak wajar, sementara bekas lebam dengan warna yang berbeda-beda memenuhi betis hingga pergelangan kakinya. 

“Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ya, Pak. Anak-anak ini perlu menjalani rontgen,” ujar dokter itu kepada Damar.

“Ya, Dok.” Damar mengangguk seraya berusaha menghapus air matanya. “Saya juga ingin melaporkan penyiksaan yang mereka alami. Jadi, saya membutuhkan visum sebagai barang bukti.”

“Baik, Pak. Nanti kami catat semua kondisi dan luka anak-anak. Soal visum, kami akan bantu prosesnya.” Dokter itu menatap anak-anak dengan sendu. Matanya sudah berkaca-kaca di balik kacamata.

Memang tidak ada orang normal yang tetap baik-baik saja setelah melihat keadaan anak-anak. Salah seorang perawat bahkan tak sanggup menahan tetesan air matanya saat memeriksa mata Janu yang mengalami kerusakan. 

Damar berusaha tetap tersenyum saat mengantar anak-anak ke ruang radiologi untuk menjalani rontgen. Namun, air matanya tetap luruh begitu pintu ruang pemeriksaan tertutup.

Olivia segera memeluknya erat karena kakinya seolah kehilangan pijakan.

“Anak-anak—” Damar bahkan tak sanggup bersuara lagi, tetapi Olivia sudah mengerti. 

Dia ingin memberi kata penenang, tapi tak akan ada satu patah kata pun yang pantas terucap. Jadi, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah mempererat pelukan. 

“Maaf.” Olivia turut merasa sesak. “Gara-gara aku—”

Damar menggeleng seraya membalas pelukannya tak kalah erat. 

“Yang bersalah di sini ayah kandung mereka,” sahutnya. 

Damar tahu Olivia sedang menyalahkan dirinya sendiri. Berandai, jika saja dia tidak menyusulnya ke Jakarta, anak-anak tak akan mengalami hal semenyeramkan ini. 

Padahal, Damar pun tak jauh berbeda. Dia terus dihantui penyesalan yang sama. Seandainya saja dia membawa anak-anak ikut ke Jakarta, semua ini mungkin tak akan pernah terjadi. Pada akhirnya, satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah menjaga anak-anak dan menebus semua luka yang telah mereka alami.

Dari balik pintu ruang radiologi, suara roda brankar sesekali terdengar bergesekan dengan lantai, disusul instruksi lirih para tenaga medis yang tak begitu jelas. Setiap suara yang terdengar membuat dada Damar semakin sesak.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka dan menampakkan anak-anak yang keluar dengan senyuman. Pemandangan itu lagi-lagi membuat Damar menangis. Mereka sudah terluka begitu banyak, tetapi masih bisa menunjukkan senyumannya pada dunia.

Anak-anak segera ditempatkan di ruang rawat yang telah disiapkan. Sementara itu, Damar menghadap dokter untuk menerima hasil pemeriksaan. 

“Kalian tunggu di sini sama Kak Oliv, ya,” pamitnya kepada anak-anak.

Olivia berjalan maju dan menyuguhkan senyuman semanis mungkin. 

“Halo,” sapanya.

Lihat selengkapnya