Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #31

BAB 31. BUKAN SALAH KAMU

“Yah! Awannya kayak permen kapas!” Rachel menunjuk jendela dengan mata berbinar. 

Pesawat baru lepas landas lima belas menit, tetapi anak-anak tak henti-hentinya berkomentar takjub melihat pemandangan di balik jendela. Damar mencoba menjawab dengan terus tersenyum, meski ujung matanya tak lepas dari Janu yang terus menunduk.

Sebelah tangannya merangkul bahu Janu dan memberikan elusan. Janu menoleh padanya, tapi tak berbicara apa-apa. Namun, wajahnya sudah jelas sedang berkata, “Aku juga mau lihat awan yang kayak permen kapas.”

Di barisan kursi sebelahnya berjejer Leo, Adam, dan Ari. Olivia duduk di depan mereka dan sesekali mencuri pandang ke arah Damar.

Setelah anak-anak mendapatkan perawatan intensif, Damar langsung membawa mereka terbang ke Jakarta  secepatnya. Dia ingin segera pergi dari kota yang menyimpan terlalu banyak luka dan trauma bagi mereka.

Dia sudah menghubungi Pak Saba kalau sudah menemukan anak-anak dan meminta tolong bantuan mengurus segala masalah hukum yang akan dia gugat kepada Haryo dan Yuli.  Pak Saba bersedia mengurus segalanya, bahkan tak henti-hentinya menangis saat menerima panggilan video dari anak-anak. 

“Kamu cepat bawa mereka ke Jakarta, biar saya urus semuanya. Tinggalin aja mobil kamu dan naik pesawat sama anak-anak. Pokoknya jangan sampai lepas lagi.”

Perjalanan ke Jakarta menghabiskan waktu sekitar satu jam. Anak-anak tidak mengatakan apa-apa saat pesawat mendarat, tetapi wajah mereka jelas menunjukkan kekecewaan. Raut mereka sudah jelas dapat diterjemahkan, “Aku masih ingin lihat awan kapas.”

“Nanti kita naik pesawat lagi kalau berangkat liburan,” ucap Damar kemudian. Yang berhasil mengembalikan binar di wajah mereka. “Sekarang kita pulang ke apartemen Ayah,” lanjutnya.

Leo memiringkan kepala. “Apartemen itu apa, Yah?”

“Rumah Ayah.”

Setelah keluar dari bandara, Olivia memisahkan diri. Damar bersikeras agar mereka satu mobil, tetapi Olivia tetap memilih memesan taksi sendiri. 

“Gunakan waktumu buat anak-anak aja,” tuturnya sebelum masuk ke dalam mobil. 

Dia melambaikan tangannya kepada anak-anak. Yang dibalas dengan lambaian penuh semangat. 

“Hati-hati, Kakak Cantik!” seru Janu dan Ari. Olivia tergelak mendengarnya. 

Damar menyimpan senyum lega saat melihat anak-anak sudah menerima Olivia dengan baik. Olivia memang sudah menunjukkan keseriusan janjinya tentang ingin turut serta membesarkan anak-anak. Dia  bahkan membelikan baju baru untuk mereka, lengkap dengan segala perlengkapan lain berupa sepatu, sandal, topi, kacamata untuk Janu, bahkan jepit rambut lucu untuk Rachel.

Anak-anak melongo saat taksi sudah membawa mereka ke gedung apartemen Damar. Ari dan Rachel memicingkan matanya saat mendongak ke lantai teratas gedung. 

“Jadi ini rumah Ayah yang sebenarnya?” tanya Leo setelah membeo cukup lama. 

Damar hanya bisa terkekeh melihat air muka mereka, tetapi senyumnya langsung kaku saat menatap wajah Janu yang datar karena dia tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan.

“Iya. Ayo masuk.”

Anak-anak mengangguk pelan. Dengan langkah ragu, mereka mengikuti Damar. Pintu kaca lobi terbuka otomatis begitu mereka mendekat, membuat mereka tersentak selama beberapa detik. 

“Ayah tinggal di hotel?” Ari bertanya lagi saat mereka sudah berdiri di tengah lobi. 

“Apartemen, Ari,” koreksi Damar.

Ari mengangguk-angguk. “Bagus, Yah. Kayak hotel.”

Matanya sudah menjelajah ke setiap penjuru lobi. Begitu pula dengan Adam, Leo, dan Rachel. Hawa dingin yang menyambut mereka begitu menyegarkan, berbanding terbalik dengan udara panas di luar. 

Mereka saling bergandengan saat lift bergerak menuju lantai tujuh. Damar pun mengeratkan genggamannya pada tangan Janu dan Rachel. Hatinya dipenuhi haru. Selama ini, dia selalu pulang ke apartemen yang dingin dengan hati yang sendu. Kini, dia datang membawa anak-anak yang akan menghangatkan setiap sudut ruang.

Dia sudah memimpikan momen ini setiap harinya. Segala air mata yang terkuras selama dia pulang dengan tangan kosong akhirnya menemukan muaranya. 

“Kita nanti tinggal di sini, Yah?” tanya Rachel setelah Damar membuka pintu apartemen untuk anak-anak.

“Enggak. Di sini terlalu kecil untuk kita semua. Nanti kita akan pindah ke rumah baru.”

Anak-anak terus menengok ke kanan dan kiri. Setiap sudut apartemen Damar meninggalkan kesan mewah di mata mereka. Televisi di ruang tengah bahkan tampak dua kali lebih besar dibanding yang ada di rumah sebelumnya. 

Ada pula lukisan-lukisan abstrak yang tak mereka mengerti, tetapi terlihat begitu serasi menghiasi setiap dinding. Kekaguman mereka semakin bertambah saat mendongak dan menemukan lampu-lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit.

“Ruma Ayah bagus,” komentar Ari.

“Iya?” tanya Janu.

Lihat selengkapnya