Damar mengangkat telunjuknya ke depan bibir sebagai isyarat agar anak-anak diam. Ari pun menyikut Janu yang masih berceloteh tentang betapa panasnya cuaca saat pulang sekolah. Mereka sudah tinggal di Jakarta tiga tahun, tapi rasanya masih sulit beradaptasi dengan terik matahari.
“Disuruh Ayah diam,” bisiknya.
Janu segera menipiskan bibir. “Sudah waktunya, ya?”
“Iya.”
Ketegangan mengudara di ruang tengah. Jika ada tetangga yang melihat, mereka pasti akan keheranan karena rumah yang terbiasa bising itu ternyata bisa setenang permukaan meja yang baru dilas.
Damar melirik ke arah jam tangan—sudah kedua puluh kali dalam lima menit terakhir, sedangkan Adam sudah memelototi penunjuk waktu di sudut laptop tanpa kedip.
“Kamu siap?” tanya Damar saat jarum menit sudah mengarah di angka 12.
Adam menghela napas panjang dengan cukup lama seakan sudah menahannya berjam-jam. Tangannya sedikit gemetar saat menggerakkan kursor sehingga Damar terus menguatkan dengan mencengkram bahunya.
“Apapun hasilnya, Ayah tetap bangga sama kamu. Kamu tahu, kan? Jadi jangan sedih kalau lihat warna merah.” Damar terus berbicara dengan mata tertutup, karena sesungguhnya dia yang lebih gugup dan takut melihat hasil pengumuman yang sedang Adam buka.
“Oh ….”
Komentar singkat bernada rendah dari Adam membuat Damar buru-buru menenggelamkan Adam ke dalam pelukan. Biarpun tinggi badan Adam makin menjulang, dia tetap mendekapnya seperti anak koala.
“Nggak apa-apa. Nggak apa-apa. Bisa dicoba tahun depan,” tenang Damar. “Kamu juga bisa ke kampus swasta. Banyak kampus yang bagus juga kok.”
Air matanya sudah sesenggukan seakan-akan dia sendiri yang sudah gagal. Seolah-olah dirinya yang menghabiskan waktu hanya untuk belajar demi mengejar ujian kesetaraan di setiap tahun hingga mengambil tes masuk perguruan tinggi.
Seketika ketegangan larut menjadi kesenduan. Leo yang duduk sambil memangku Rachel hanya menundukkan wajah, sama seperti Janu dan Ari. Hanya Rachel yang turun dari kursi dan mencoba melihat tulisan di layar laptop.
“Selamat! Anda dinyatakan … lulus.”
Ejaan Rachel yang sudah lancar membuat Damar melepas pelukan. Matanya melotot sempurna saat menyadari Adam tengah menahan tawa.
“Aku belum bilang apa-apa loh. Ayah sendiri yang langsung nangis,” jelas Adam sebagai elakan sebelum Damar memprotes.
“Kak Adam lulus?” Janu berseru nyaring.
Ari ikutan turun dari sofa demi mendekati layar laptop. Leo pun menjulurkan leher dan sama-sama berseru, “Kak Adam lulus!!”
Semua orang bersorak gembira, satu-satunya yang masih menangis adalah Damar. Dia kembali memeluk Adam dengan terisak, “Ke—ren. A—ayah bang—ga.”
Rachel hanya menggeleng-geleng melihat bahu Damar yang masih naik-turun.
“Ayah cengeng!” ejeknya.
“Ayah nangis lagi? Ya ampun!” Janu menyahut sambil menepuk dahi.
“Kamu inget nggak, pas Rachel lulus TK? Ayah nangis sampai TIGA jam!” Ari sengaja menekan angka dengan menggeleng prihatin.
“Di kelulusan SD kita aja Ayah nangis dari pagi sampai sore! Di kelulusan SMP Kak Leo juga!” imbuh Janu.
“Ayo tebak.” Leo tiba-tiba tersenyum geli. “Berapa lama Ayah bakal nangis setelah tahu Kak Adam jadi mahasiswa UI?”
“Lima jam!”
Rachel mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Janu dan Ari tak ingin kalah dan terus menyebut angka-angka yang lebih besar.
“Enam!”
“Tujuh!”
“Sepuluh jam!!!”