Lima Hari, Dua Hati

KaditaAuthor
Chapter #1

Dunia Rendra; 1

0; Titik Balik

Ada satu pertanyaan yang selalu bikin gua penasaran setiap kali teringat; apa benar cewek dan cowok itu nggak bisa murni sahabatan tanpa terjebak dalam perasaan suka? Pertanyaan remeh temeh yang sebenarnya nggak terlalu worth it buat dicari tahu. Tapi buat gua, pertanyaan ini penting, karena gua adalah ‘cowok’ dalam pertanyaan itu.

Bisa jadi perlu digarisbawahi, kalau gua adalah cowok yang terjebak dalam perasaan suka pada sahabat ceweknya. Bertahun-tahun dan mungkin, bertepuk sebelah tangan. Kata-kata yang sering gua dengar dari orang ternyata ada benarnya—waktu yang kita habiskan bersama ternyata bisa membuat gua menyimpan rasa sayang pada seseorang.

Rasa sayang pada seseorang yang mungkin benar atau mungkin salah. Atau mungkin tidak pada tempatnya sama sekali. Tapi satu yang pasti, gua benar-benar sayang Agnia. Orang-orang berpikir; “ah, wajar-wajar aja kalau lo jatuh cinta sama sahabat cewek lo”. 

Sayangnya, satu hal yang membuat gua akan menjadi semacam villain dalam kisah ini adalah karena gua masih tetap menyayangi perempuan itu meski dia akan menikah dengan laki-laki lain.

Dan, doa-doa yang selalu gua panjatkan selama bertahun-tahun kebelakang untuk bisa memiliki Agnia akhirnya terjawab. Tepat beberapa saat sebelum ia mengikat janji sehidup semati. Lucu, kan?


***


Senin pertengahan tahun 2026, Senin yang selalu hectic, Senin yang selalu Rendra benci. Belum-belum ia menyimpan tas berat di bahu berisi laptop yang beratnya ngalah-ngalahin batu seberat 5 kg, anak marketing sudah bertengger manis di bangku kosong sebelah mejanya.

“Oiiii, pagi,” makhluk menyebalkan bernama Amoy itu menyapa Rendra dengan cengiran tanpa rasa bersalah.

Rendra si ketus lalu berdecak, mengintip jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 7.40 pagi.

“Apaan?”

“Dih, galak bener,” Amoy mendesah, tapi jelas wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sudah mengganggunya tentang kerjaan bahkan sebelum jam kerja dimulai.

“Habisnya, belum juga jam 8 udah ganggu gua aja. Tolong lah, kasih gua spare time, gua masih mau bikin kopi terus ngopi bentaran sebelum diserang draft kerjaan,” Rendra menarik napas lagi, kali ini berbicara dengan nada memohon daripada kesal.

“Ya maap Ren, habisan kan emang presentasi ke kliennya besok pagi. Gua juga gak akan ngejar-ngejar lo kalau pak Adrian nggak nge-chat terus-terusan di luar jam kerja,” kali ini si Amoy yang mengeluh.

Mendengar hal itu, Rendra bungkam. Fokus sebentar menyalakan laptop kantor yang berdengung seperti nyamuk sebelum akhirnya menyala sempurna. Memang akhir-akhir ini, kantor mereka sedang dapat banyak proyek dan klien-klien baru karena konten-konten promosi yang sempat viral sejak beberapa bulan lalu. 

Agency creative kecil-kecilan ini pun ngos-ngosan dengan fase kerja yang baru—atau lebih tepatnya keteteran.

“Ck, heran dah gua, kenapa nggak hire anak desain baru sih? Gua udah nggak sanggup ini.”

Amoy tertawa lesu, “ya nggak tahu lah. Semenjak bikin jasa kelola ads jadi begini nih. Gua juga pusing Ren, harus megang ads, laporan traffic all social media, belum lagi harus jadi project manager buat syuting keperluan konten klien dadakan. Pusing gua pusing!”

Percakapan atau lebih tepatnya keluhan pagi itu pun diakhiri dengan amanat Amoy untuk mengecek Trello yang isinya anak-anak desain dan marketing serta Gdrive kantor untuk melihat materi-materi editorial plan dari presentation deck untuk besok yang harus dibuat desainnya.

Setumpuk draft submit request desain, ditambah proyek direct dari atasan—yang sebenarnya tak terlalu urgent tapi tetap diburu-buru—membuat Rendra berlarut-larut dalam kerjaan hari itu. 

Dan hari esoknya, esoknya, hingga ia selalu ambil lembur selama beberapa jam setelah jam pulang terus menerus. Meskipun Rendra kelihatan banyak mengeluh, tapi sesungguhnya ia butuh pengalihan pikiran akhir-akhir ini. Ia sangat-sangat membutuhkannya.

Renra tidak peduli sebanyak apa lembur yang harus diambil, selama; pekerjaannya beres dan otaknya tidak terus menerus tertarik ke arah Agnia. Agnia... ah, pikiran itu lagi.

Lihat selengkapnya