Entah kenapa sejak malam itu—malam ketika ia melihat Agnia online di Whatsapp-nya, Rendra jadi lebih sering mengecek profil sahabatnya. Iya, hanya diam menatap foto profil, status, dan tetek bengek lain seperti orang bodoh.
Foto profil Agnia tidak pernah berganti sejak beberapa tahun lalu, selalu yang itu. Foto yang menurutnya adalah sebuah masterpiece setelah mendapatkan angle yang sempurna di bawah siraman cahaya golden hour di suatu sore. Saat mereka sedang mendaki bukit di suatu tempat di Sumba.
Beberapa kali ia nampak online sebelum menghilang. Selama beberapa jam Rendra terus menerus melakukannya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati karena rasanya, ingin sekali ia mengetik kalimat dan mengirimkannya pada Agnia.
Puas menatapi foto profil Agnia, Rendra kembali ke bagian chat. Kali ini matanya terpaku pada kursor di kotak message. Kursornya berkedip-kedip, sebelum akhirnya, dengan tak sadar jari Rendra mengetik kata demi kata yang ada di dalam kepala.
Gi... gimana kabar lo...
Sial, sial, ia menghapus semua kalimat hingga tak bersisa, ngapain sih bajingan?
Tapi jari Rendra kembali jadi pengkhianat karena tak mau sinkron dengan otak dan memilih berpihak pada hati.
Gi... gua kangen... kangen banget. Lo kemana aja?
Lebih gila lagi! Ngapain sih lo!
Rendra berusaha menghapusnya, tapi jari sialan itu malah terpeleset dan selip karena berkeringat. Sehingga tiba-tiba saja kalimat tak tahu malu tadi terkirim.
Mata Rendra terbelalak ketika melihat chat yang baru saja ia kirim dan semakin semaput ketika centangnya berubah menjadi dua.
“Ah, anjing! Tolol lo Ren!” umpatnya kepada kebodohan diri sendiri.
Dalam panik ia buru-buru menghapus pesan itu, namun sial, tak berselang lama setelah terkirim, dua centang abu-abu itu berubah menjadi biru. Tepat sebelum Rendra berhasil menghapusnya.
Jantung Rendra berdetak tak karuan, panik, takut, tapi penasaran setengah mampus dengan apa yang akan terjadi. Beberapa menit setelahnya, Agnia nampak sedang typing dan perut Rendra terasa mulas karena gugup seperti anak sekolah bertemu cinta pertama. Aneh.
Tak sadar ia menunggu Agnia selesai mengetik, tapi harapan itu pupus saat tak ada apapun yang dikirimkan oleh Agnia sebagai balasan. Nampaknya perempuan itu mengurungkan niat untuk membalas chat impulsif Rendra. Membiarkan centang biru menggantung di antara mereka. Beberapa jam berlalu hingga akhirnya Rendra memilih untuk kembali mengirimkan chat lain.
Sorry, Gi. Don’t mind it. Salah kirim.
***
Jelas-jelas Ia tidak salah kirim. Jelas-jelas ia mengetik nama ‘Gi’ di pesan itu. Kenapa juga ia harus mengirim chat konfirmasi yang tak penting itu kemarin?
Emang lo dasarnya goblok dan gegabah, Rendra.
Beberapa hari setelah insiden di Whatsapp itu, Rendra jadi bermuram durja. Beberapa kali merasa harus memastikan kalau memang Agnia membiarkan chat itu berakhir hanya di centang biru. Dan kenyataannya memang begitu. Agnia memang membiarkan dua chat terakhir itu dengan status hanya dibaca.