Itu suara Agnia, suara yang sangat familiar di telinga Rendra. Suara yang mampu membawakan deras kehangatan dan jantung yang berdebar-debar tak karuan.
“Pong!"
“Eh, I-iya. Agnia ya?”
“Ih,” perempuan itu berdecak, “kok lama banget responnya?” omelnya.
Rendra terkekeh mendengar omelan itu, sangat khas Agnia yang sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit mengomel, apapun ia komentari sambil mencerocos jika sudah kesal. Apalagi ia memang tipikal yang mudah kesal.
Rendra amat sangat kangen dengan omelannya.
“Sori, sori. Tadi gua baru bangun tidur, jadi masih agak linglung.”
“Oh, lo nggak kerja ya?” pertanyaan itu membuat Rendra mengecek jam sekali lagi, pukul 17.15 sore, ia ternyata tertidur sejak jam 2 siang.
“Nggak nih, gua sakit hari ini. Kenapa Gi? Ada apa telpon?”
Kali ini Agnia yang terdiam seribu bahasa sampai-sampai Rendra harus mengecek apakah sambungan telepon biasa itu masih tersambung atau tidak.
“Halo? Gi?”
Masih tak ada jawaban. Sambil khawatir ia mengecek layar, melihat bagian sinyal. Takut jika ternyata tiba-tiba sinyalnya hilang.
“Gi—“
“Gua kangen lo, Rendra.”
“Hah?” adalah respon terbaik yang bisa Rendra keluarkan saat mendengar kalimat yang tiba-tiba itu. Rasanya seperti benar-benar masih dalam mimpi.
Agnia kembali berbicara tanpa mengulangi apa-apa, “ketemu yuk?”
Ketemu?
Pertanyaan itu menimbulkan dilema dalam dirinya. Semudah itukah Agnia mengajak bertemu setelah hampir berbulan-bulan menghilang begitu saja? Di sisi lain, Rendra bahagia setengah mati. Jantungnya terus bergemuruh tanpa henti, bergejolak. Mengirimkan sinyal bahagia ke setiap urat nadi.
Di sini lah hati dan otak Rendra kembali berseteru.
Hati menerima ajakan itu tanpa malu-malu, sedangkan otak banyak sekali pertimbangan—kesal karena tak ada kabar lah, kesal karena beberapa hari lalu Agnia sengaja tak membalas Whatsapp nya lah, dan terakhir, peringatan dari otak untuk lebih berhati-hati karena Agnia sekarang akan menikah dengan laki-laki lain.
Dan, akhirnya, Rendra memilih win-win solution, yakni, mencoba berhati-hati sebelum mengiyakan ajakannya dengan impulsif. Meskipun mungkin pada akhirnya ia akan menyerah pada keputusan; mengiyakan permintaan Agnia.
“Ketemu gimana?”
Duh, tai, pertanyaan gua jelek banget lagi. Kaya orang tolol.
Pertanyaan itu disambut tawa dari seberang telpon, “ya ketemu, oon. Ngopi kek apa kek, kaya kita dulu.”
Kaya kita dulu, coffee shop hoping. Dan betapa mudahnya pertahanan diri Rendra runtuh hanya dengan kalimat sederhana itu. Akhirnya ia pun luluh. Tapi tetap dengan sisa-sisa kewaspadaan, akhirnya Rendra bertanya kembali.
“Lo... yakin nih?”
“Hah, kenapa emangnya Pong?”
“Yaaa, siapa tahu calon suami lo marah kalau tahu.”
Kali ini Agnia ngakak, tawanya diakhiri dengan sepenggal kata, “nope, he won’t.”
“Yakin?”