Pernikahan Dito dan Yasmin tersangkut pada sebuah centang biru.
“Bukan centangnya,” kata Dito untuk ketiga kali. “Masalahnya dia membaca pesan saya, lalu tidak menjawab.”
Di seberangnya, Yasmin duduk dengan kedua tangan bertaut di atas tas. “Karena pesanmu bukan pertanyaan.”
“Aku bilang kita perlu bicara.”
“Itu ancaman kalau dikirim pukul setengah dua pagi.”
Aruna Danisha menahan ujung pulpennya di atas kertas. Di luar ruang konseling, Jakarta bergerak dalam suara yang teredam kaca: klakson pendek, geraman bus, dan sesekali dering lift dari ujung lorong. Di dalam ruangan itu hanya ada tiga orang, satu teko air yang belum disentuh, dan percakapan yang selama delapan menit terus berputar mengelilingi telepon genggam.
“Kalau kalimat itu bukan pertanyaan,” ujar Aruna, “menurut Mas Dito, jawaban apa yang seharusnya diberikan Mbak Yasmin?”
Dito membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Yasmin memandang suaminya. Ada kelelahan di bawah matanya, tetapi untuk pertama kalinya pagi itu, ada juga rasa ingin tahu.
“Saya hanya ingin dia bilang kapan kami bisa bicara,” kata Dito akhirnya.
“Jadi yang Mas Dito butuhkan sebenarnya kepastian waktu.” Aruna mengalihkan pandangan kepada Yasmin. “Dan yang Mbak Yasmin dengar?”
“Bahwa saya akan diinterogasi saat dia pulang.”
“Saya tidak pernah menginterogasi kamu.”
“Kamu bertanya sambil sudah punya jawaban.”
Dito bersandar, terluka oleh kalimat itu. Aruna melihat bantahan bergerak di wajahnya. Ia juga melihat lelaki itu memilih untuk tidak segera mengucapkannya.
Kemajuan kecil jarang tampak seperti kemenangan. Sering kali bentuknya hanya seseorang yang berhasil menahan satu kalimat selama lima detik.
Aruna membiarkan hening bekerja.
Di rak rendah dekat jendela, jam kayu menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh tujuh. Mereka mempunyai delapan menit sebelum sesi harus ditutup. Aruna hendak meminta Dito mengulang kebutuhannya tanpa tuduhan ketika terdengar sesuatu jatuh dari ruang administrasi.
Disusul suara Bima, cukup keras untuk menembus pintu.
“Jangan ada yang membalas!”
Dito dan Yasmin menoleh bersamaan.
Aruna tersenyum kecil. “Kabar baiknya, itu bukan suara dari ruang konseling lain.”
Untuk sesaat, sudut bibir Yasmin bergerak. Dito tidak ikut tersenyum, tetapi bahunya sedikit turun.
Lalu telepon di dalam tas Yasmin bergetar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali tanpa jeda.
Yasmin mengeluarkannya, mungkin bermaksud mematikan suara. Wajahnya berubah sebelum jarinya sempat menyentuh layar.
“Apa ini?”
Dito meraih teleponnya sendiri. Pada detik yang sama, ponsel Aruna yang diletakkan terbalik di meja ikut bergetar.
Sesuai aturan, Aruna tidak memeriksa pesan selama sesi. Namun nama lembaga mereka tampak pada notifikasi yang menyala singkat di layar Yasmin.
Pernah Konseling di Lentera Relasi? Hati-hati, Kisah Anda Bisa Jadi Bahan Seminar.
Di bawah judul itu terdapat gambar seorang perempuan di panggung, wajahnya tertangkap di tengah bicara. Logo Lentera Relasi terlihat pada layar presentasi di belakangnya.
Dito berdiri begitu cepat hingga lututnya membentur meja kecil. Air dalam teko bergoyang.
“Kasus siapa yang dia ceritakan?”
Aruna belum pernah melihat video itu. Perempuan dalam gambar adalah Tania Wirawan, konselor yang telah meninggalkan Lentera Relasi sebelum Aruna bekerja di sana.
“Saya belum tahu,” jawabnya.
“Kalian merekam sesi?”
“Tidak. Sesi kita tidak direkam.”
“Tapi kalian menyimpan catatan.”
“Ya, catatan layanan disimpan sesuai prosedur lembaga.”
“Lalu dipakai buat seminar?”
Aruna menahan dorongan untuk menjawab tidak mungkin. Kalimat itu akan menenangkan ruangan selama beberapa menit. Kalimat itu juga bisa menjadi kebohongan.
Yasmin menggeser layar dengan jari yang mulai gemetar. “Di sini orang-orang menebak nama pasangan itu.”
Dito berdiri di belakang kursinya, seolah benda yang tadi didudukinya mendadak menjadi milik pihak yang perlu dicurigai. “Saya mau lihat semua catatan tentang kami.”
“Itu hak yang bisa kita bicarakan prosesnya,” kata Aruna. “Saya akan membantu menghubungkan Mas dan Mbak dengan petugas yang menangani permintaan tersebut.”
“Bukan nanti. Sekarang.”
“Saya mengerti kenapa Mas ingin kepastian sekarang. Saya tidak akan menjanjikan sesuatu yang belum saya periksa.”
Dito tertawa pendek tanpa rasa lucu. “Ibu konselor di sini, tapi tidak tahu cerita klien dipakai atau tidak?”
Pertanyaan itu menghantam titik yang paling rapuh. Aruna merasakan panas naik ke tengkuknya, lalu membiarkannya lewat tanpa dijadikan jawaban.
“Saya tahu saya tidak pernah menggunakan cerita Mas dan Mbak di luar kepentingan layanan kalian,” katanya. “Saya juga tahu akses terhadap catatan dibatasi. Tentang video dan praktik lama yang diberitakan ini, saya belum memiliki cukup informasi untuk memberi jawaban yang jujur.”
Yasmin mengangkat wajah. “Kalau kami lanjut bicara hari ini, aman?”
Aruna mendengar kata itu sebagaimana Yasmin mengucapkannya: bukan sebagai pertanyaan teknis, melainkan permintaan agar seseorang mengambil risiko dari pundaknya.
Ia ingin berkata ya.
Sebaliknya, ia menaruh pulpen di meja.
“Yang bisa saya pastikan, saya tetap terikat menjaga kerahasiaan sesi ini. Tetapi karena ada kabar yang baru muncul dan belum diperiksa, saya tidak akan meminta Mbak dan Mas percaya hanya karena saya menyuruh begitu.”