Lima Puluh Tujuh Cara untuk Tetap Tinggal

Jane Lestari
Chapter #2

Semua Orang Ingin Jawaban

Pada halaman pertama surat itu, nama Lentera Relasi tercetak dalam huruf kapital.

Rendra Baskara membacanya dua kali.

Bukan karena kalimatnya sulit dipahami. Justru karena bahasa hukum mempunyai cara tersendiri untuk membuat kehancuran terdengar rapi: kerugian materiil dan imateriil, kelalaian menjaga kerahasiaan, penggunaan informasi tanpa persetujuan yang memadai.

Di seberang meja, dua belas orang menunggu wajahnya memberi arti pada kata-kata tersebut.

Rendra merapikan kembali halaman pertama dengan lembar-lembar di bawahnya. Gerakan itu memberinya tiga detik untuk memastikan suaranya tidak membawa kepanikan yang belum berguna bagi siapa pun.

“Rapat kita tunda sepuluh menit,” katanya. “Bu Sinta, tolong pastikan semua klien yang masih berada di kantor mendapat penjelasan tentang pilihan layanan hari ini. Pak Bima, hubungi penasihat hukum kita. Mbak Rini, dokumen ini dipindai melalui perangkat internal dan hanya dikirim kepada orang yang ditunjuk.”

“Pernyataan untuk media?” tanya Bima.

“Belum.”

“Tapi mereka sudah di depan.”

“Karena itu jangan beri mereka bahan tambahan yang belum kita periksa.”

Bima menutup mulutnya sendiri dengan dua jari, menirukan gerakan ritsleting. Biasanya tindakan itu akan memancing keluhan dari Sinta. Kali ini tidak ada yang menanggapinya.

“Pak Rendra,” kata salah seorang konselor, “apa tuntutannya?”

“Belum akan saya simpulkan sebelum penasihat hukum membacanya.”

“Apakah nama kami disebut?”

“Yang disebut dalam halaman awal adalah lembaga dan pihak-pihak yang terkait dengan seminar. Kita akan memeriksa keseluruhan dokumennya.”

Jawaban itu tidak memuaskan. Rendra dapat melihatnya dari cara beberapa orang meraih ponsel masing-masing, seolah layar kecil mereka mungkin memberi kepastian yang tidak ia berikan.

Di dekat pintu, Aruna tidak mengangkat telepon. Ia berdiri dengan buku catatan menempel di sisi tubuh dan memandang Rendra lurus-lurus.

“Staf perlu tahu kalau pekerjaan mereka berisiko,” katanya.

“Mereka akan tahu setelah kita memahami risikonya.”

“Kalau mereka baru tahu setelah keputusan dibuat, itu bukan penjelasan. Itu pengumuman.”

Beberapa kepala menoleh dari Aruna kepada Rendra.

Pada hari biasa, Rendra mungkin akan mengingatkan bahwa ruang rapat bukan tempat untuk memperdebatkan keputusan yang belum ada. Namun hari itu bukan hari biasa, dan Aruna tidak sepenuhnya keliru.

“Kita berkumpul kembali pukul dua belas,” katanya. “Saya akan menyampaikan apa yang sudah terverifikasi, termasuk hal-hal yang belum bisa dijawab. Tidak ada keputusan tentang pekerjaan atau layanan yang akan dibuat sebelum rapat itu.”

Aruna menahannya dalam pandangan sesaat, lalu mengangguk.

Bukan persetujuan penuh. Cukup untuk membuat orang-orang mulai bergerak.

Setelah ruang rapat kosong, Rendra membawa surat gugatan ke kantornya bersama Sinta dan Bima. Pintu dibiarkan terbuka. Dari meja kerjanya ia masih dapat melihat Rini menerima panggilan dan Pak Idrus menghalangi seorang pembuat konten yang mencoba merekam melalui kaca.

Bima duduk, berdiri lagi, lalu memutuskan bersandar pada lemari.

“Ratih sedang menuju ke sini,” katanya. “Katanya jangan mengakui, menyangkal, menghapus, mengunggah, meneruskan, atau bernapas secara publik sebelum dia datang.”

“Bagian terakhir nasihatmu atau nasihat Bu Ratih?” tanya Sinta.

“Interpretasi kreatif saya.”

“Hilangkan kreativitasmu untuk dua puluh empat jam ke depan,” kata Rendra.

“Ini pekerjaan komunikasi. Kreativitas adalah—”

Rendra memandangnya.

“Baik. Saya akan menjadi lemari.”

“Lemari juga bisa bocor,” kata Sinta.

Bima tampak tersinggung secara profesional.

Rendra menunduk pada dokumen. Penggugatnya Reza Pradipta dan Alika Pradipta. Mereka menyatakan bahwa rincian yang dipakai dalam seminar telah memungkinkan keluarga, rekan kerja, dan lingkungan sekolah anak mengenali mereka. Gugatan itu tidak hanya mempermasalahkan video yang kini beredar, tetapi kerugian yang mereka anggap telah berlangsung sejak seminar diselenggarakan.

Ada lampiran tangkapan layar. Pesan dari saudara. Potongan percakapan grup. Sebuah surel tanpa nama pengirim yang menyebut Alika sebagai perempuan yang telah membuka aib rumah tangga kepada orang asing.

Rendra berhenti pada kalimat itu.

Ia telah membaca banyak laporan keluhan selama memimpin Lentera Relasi. Biasanya keluhan mempunyai bentuk yang dapat dipindahkan ke kolom: waktu tunggu, tagihan, sikap petugas, kesalahan penjadwalan. Ini berbeda. Yang mungkin telah diambil dari Reza dan Alika bukan benda yang dapat dikembalikan, melainkan hak untuk menentukan siapa yang mengetahui bagian paling rapuh dari hidup mereka.

Sinta menunjuk salah satu halaman. “Mereka menyebut formulir persetujuan.”

“Mereka mengakui menandatanganinya,” kata Bima. “Itu baik untuk kita, bukan?”

“Belum tentu,” jawab Rendra.

Kata-kata Aruna dari rapat tadi kembali kepadanya. Persetujuan untuk apa?

Bima mengusap wajah. “Saya tahu saya dilarang kreatif, tapi bolehkah saya setidaknya berharap?”

“Anda boleh berharap formulirnya jelas,” kata Sinta. “Bukan berharap orang yang menandatanganinya kehilangan hak untuk keberatan.”

Telepon Rendra berbunyi. Pesan dari ibunya muncul di layar.

Ibu lihat berita. Kamu sudah makan?

Di bawahnya, pesan dari ayahnya datang tak sampai semenit kemudian.

Jangan bicara sebelum pengacara datang. Simpan semua dokumen.

Dua cara mengkhawatirkannya, pikir Rendra. Keduanya dapat dikenali tanpa nama.

Ia menjawab ibunya bahwa ia sudah makan, kemudian menghapus kata sudah karena itu tidak benar.

Belum. Nanti saya makan. Keadaan sedang ditangani. Mohon doanya.

Lihat selengkapnya