Lima Puluh Tujuh Cara untuk Tetap Tinggal

Jane Lestari
Chapter #3

Ruang yang Tidak Lagi Aman

Keesokan paginya, Aruna memindahkan kursi Yasmin tujuh sentimeter ke kanan.

Tidak ada alasan klinis untuk angka tujuh. Ia hanya ingin kursi itu tidak lagi tepat berhadapan dengan kursi Dito. Dengan posisi sedikit menyerong, keduanya masih dapat saling melihat tanpa merasa ditempatkan di dua sisi sebuah pemeriksaan.

Ia kemudian memeriksa teko air, kotak tisu, jam kayu, dan gagang pintu.

Semuanya sama seperti kemarin.

Itulah yang membuat ruangan itu terasa berbeda.

Pada pukul delapan lewat sebelas, Yasmin menelepon nomor layanan dan meminta sesi mendesak. Dito bersedia datang. Mereka tiba hampir bersamaan, tetapi dari kendaraan yang berbeda.

Yasmin memilih kursi yang telah digeser Aruna. Dito tetap berdiri di dekat pintu.

“Sebelum kita mulai,” kata Aruna, “saya perlu memastikan kalian datang atas pilihan masing-masing.”

“Saya disuruh datang,” jawab Dito.

Yasmin memandang lurus ke depan. “Aku meminta. Bukan menyuruh.”

“Kalau saya tidak datang, nanti dibilang tidak mau memperbaiki pernikahan.”

“Saya belum mengatakan itu.”

“Tapi kamu memikirkan itu.”

Aruna tidak membuka buku catatannya. “Mas Dito, apakah Anda bersedia berada di sini untuk tiga puluh menit pertama, lalu memutuskan apakah ingin melanjutkan?”

“Kalau saya pergi, dicatat?”

Pertanyaan itu datang terlalu cepat untuk dianggap kebetulan.

“Keputusan mengakhiri sesi dicatat seperlunya sebagai bagian administrasi layanan,” jawab Aruna. “Saya bisa menjelaskan jenis pencatatan yang berlaku sekarang. Kalau ada bagian yang belum dapat saya pastikan, saya akan mengatakan belum tahu.”

Dito tertawa pendek. “Jawabannya sekarang selalu belum tahu.”

“Untuk beberapa hal, ya.”

“Nyaman sekali.”

“Tidak,” kata Aruna. “Tidak nyaman sama sekali.”

Dito akhirnya duduk. Bukan karena percaya, pikir Aruna, tetapi karena kemarahannya membutuhkan tempat mendarat.

Yasmin mengeluarkan sebuah amplop putih dari tas. Tidak ada dokumen di dalamnya. Hanya sebuah kunci rumah yang ia letakkan di atas meja.

“Saya mau tinggal di rumah Mbak selama dua minggu.”

Dito menatap kunci itu. “Kamu membawa saya ke sini untuk bilang mau pergi?”

“Saya membawa kamu ke sini karena kalau saya bilang di rumah, kamu akan mengikuti saya dari kamar ke kamar sampai saya berubah pikiran.”

“Saya ingin menyelesaikan masalah.”

“Kamu ingin masalah selesai sebelum kamu tidur.”

“Apa salahnya?”

“Saya tidak bisa berpikir karena kamu terus meminta jawaban.”

Dito menoleh kepada Aruna. “Ibu yang menyuruh istri saya berpisah sementara?”

“Tidak.”

“Kemarin dia belum bicara soal pergi.”

Aruna menahan diri agar tidak melirik Yasmin. “Keputusan ini pertama kali saya dengar sekarang.”

“Pasti ada hubungannya dengan sesi-sesi di sini.”

“Mungkin sesi membantu kami menyebut persoalan yang sebelumnya sulit dibicarakan. Tetapi saya tidak menentukan apakah Mbak Yasmin harus tinggal atau pergi.”

“Jadi kalau rumah tangga kami berakhir, tempat ini tinggal bilang itu pilihan kami?”

Yasmin memejamkan mata sesaat.

Aruna membiarkan pertanyaan itu berada di ruangan tanpa segera dibantah. Ia dapat membela profesinya. Ia dapat menjelaskan bahwa konseling tidak menciptakan semua masalah yang berhasil diberi nama. Namun Dito tidak sedang meminta kuliah tentang tanggung jawab. Ia sedang ketakutan, dan rasa takutnya mencari seseorang yang dapat disalahkan.

“Kalau pernikahan kalian berubah setelah proses ini,” kata Aruna, “saya tetap bertanggung jawab atas cara saya mendampingi. Tetapi keputusan hidup kalian tidak boleh saya ambil alih agar saya bisa mengaku berhasil atau menghindari tuduhan gagal.”

Dito menyandarkan tubuh. “Kalimat konselor.”

“Ya. Karena saya konselor.”

Yasmin menoleh kepada Aruna. Ada kelelahan di wajahnya yang kemarin tersembunyi di bawah kemarahan terhadap video.

“Saya bukan mau bercerai,” katanya. “Saya cuma ingin dua minggu tanpa ditanya setiap malam apakah saya masih mencintai dia.”

“Bagaimana kalau dua minggu jadi selamanya?” tanya Dito.

“Saya tidak tahu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu satu-satunya yang saya punya.”

Dito memandang jam, lalu teleponnya, lalu pintu. Aruna mengenali gerakan orang yang ingin lari tetapi takut kepergiannya akan dipakai sebagai bukti.

“Kita dapat membicarakan batas masa tinggal terpisah itu,” kata Aruna, “kalau kalian berdua menginginkannya. Cara berkomunikasi, kebutuhan rumah tangga, siapa yang perlu diberi tahu, dan kapan kalian mengevaluasi kembali. Tapi sebelum itu, ada satu pertanyaan lain yang perlu diputuskan.”

“Apa?”

“Apakah kalian masih ingin membicarakannya di Lentera Relasi.”

Dito menatapnya seolah ia salah dengar.

Lihat selengkapnya