Limits of Desire

R.J. Agathias
Chapter #1

Bab 01 - A List of Names

Leslie telah berkali-kali memeriksa jam dinding, seolah-olah jarum menitnya berjalan sangat lambat hanya untuk menguji kesabarannya. Tangannya tak lepas dari cangkir teh yang sejak tadi tak lagi hangat. Jess duduk di hadapan laptop, punggungnya tegak, sorot matanya tertuju pada layar dengan konsentrasi penuh untuk sekadar membaca sebuah daftar nama.

Di sudut ruangan, Mark berdiri sambil menggenggam ponselnya, berpura-pura sibuk meski matanya tak henti melirik layar laptop ayahnya. Sesekali ia tersenyum sendiri, seolah-olah sudah membayangkan cerita yang bisa ia banggakan kepada teman-temannya nanti.

Sedangkan Jo … ia bersandar di dekat jendela, memandang halaman depan rumah yang tampak biasa saja.

“Sudah saatnya,” gumam Jess akhirnya, suaranya pelan namun cukup membuat semua mata tertuju padanya.

Jess menekan tombol refresh. Suasana menjadi tampak tegang dan hening.

Detik-detik berlalu tanpa suara selain kipas laptop yang berdengung halus. Leslie refleks berdiri, mendekat ke sisi Jess, sementara Mark sudah lebih dulu mengintip dari belakang bahu ayahnya.

“Jo Nathan … Jo Nathan …,” ujar Leslie setengah berbisik, seolah-olah takut suaranya bisa memengaruhi hasil. Matanya sedikit menelisik menatap layar laptop, berharap nama putra sulungnya tercantum pada daftar nama tersebut.

Jess menggulir layar perlahan dan di sana—di antara deretan nama lainnya dengan prestasi gemilang—tertera satu nama yang berhasil membuat Leslie menutup mulutnya sendiri.

“Jo Nathan!” seru Jess, tak yakin apakah ia baru saja membaca atau membayangkan semata.

Leslie mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Yang … yang itu? Peringkat berapa…?”

“Ketiga dari bawah,” jawab Jess, lalu tersenyum lebar, senyum yang sejak lama tak muncul dengan selega itu.

Sejenak, ruangan itu seolah-olah meledak oleh kegembiraan yang tertahan. Leslie memeluk Mark lebih dulu sebelum berbalik dan memeluk Jo tanpa aba-aba. Mark bersorak kecil, melompat kegirangan, seakan kakaknya baru saja memenangkan lotere jutaan dollar.

“Ashford,” kata Leslie lirih, matanya berkaca-kaca. “Kamu benar-benar lolos dan bisa masuk ke Ashford sesuai dengan keinginan kita, Jo!”

Jo membeku beberapa detik sebelum akhirnya menepuk punggung ibunya dengan canggung. Ia menatap layar laptop dari kejauhan. Ya, namanya benar-benar tertera di sana. Terasa ironis, tetapi ini sangat nyata.

Remaja bermimik pucat dan suram itu tidak melompat kegirangan atau semacamnya. Yang ada hanyalah perasaan sensasi aneh, mungkin seperti berdiri di tepi sesuatu yang belum ia pahami bentuknya.

“Ashford University.” Jo bergumam pelan, matanya sulit berkedip sambil berdiri membeku untuk beberapa saat.

Universitas Ashford memang universitas terbaik di dunia. Tempat di mana anak-anak jenius berkumpul, di mana ambisi menjadi bahasa sehari-hari, dan kegagalan bukan sekadar nilai buruk, melainkan cap seumur hidup. Banyak orang berharap paling tidak salah satu anggota keluarganya bisa bersekolah di sana.

Lihat selengkapnya