Limits of Desire

R.J. Agathias
Chapter #2

Bab 02 - Roommate

Malam semakin larut. Jo memadamkan api pada rokok yang menyisakan seperempat dan gegas kembali masuk, lalu menutup perlahan pintu geser yang bingkainya dari kayu dan bagian tengahnya dari kaca bening. Lantas, Jo menarik tirai berwarna merah gelap sambil menutup mulutnya yang mulai menguap.

Belum sempat menaiki ranjangnya yang setinggi lutut itu, terdengar suara pintu diketuk pelan.

“Tunggu sebentar,” gumam Jo pelan. Langkahnya berjalan pelan menuju pintu dan membukanya.

Jo menatap seorang laki-laki yang seumuran dengannya yang menarik pelan sebuah koper berwarna ungu dan sebuah ransel berwarna biru di punggungnya.

“Andy,” ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Jo sembari tersenyum cukup lebar.

“Jo.” Tangannya terulur dan menjabat tangan Andy tanpa reaksi yang berlebihan. Mimiknya cukup datar untuk sebuah awal perkenalan dalam bersosialisasi.

Jo segera melepaskan genggaman tangan tidak lebih dari tiga detik. Tampak Andy mengangkat alis dan menelisik tindakan Jo sebagai bahan mengenal seperti apa sikap rekan sekamarnya.

Heningnya malam serta suasana yang cukup dingin membuat Andy mencoba sesuatu.

“Berasal dari mana kau?” tanya Andy. Ia menggeser sedikit pinggulnya ketika duduk di atas ranjang sambil menatap Jo.

“Indonesia,” jawabnya singkat.

“Benarkah?” Andy cukup tertarik karena penasaran dengan wajah Jo yang bisa dibilang seperti keturunan orang Inggris.

“Bahasa Inggrismu bagus juga,” ujar Andy sambil mengeluarkan beberapa barang dari tas punggungnya seperti buku, alat tulis, serta perlengkapan lainnya.

Bagi Andy, Jo terdengar seperti sangat fasih berbahasa Inggris ketika mendengarnya berbicara tadi.

“Aku hanya tinggal di Indonesia selama 13 tahun. Keluargaku berasal dari Inggris,” kata Jo sedikit menjelaskan.

“Huh?” Andy terdiam sejenak, lantas sorot matanya menatap Jo … menunggu penjelasan selanjutnya.

“Apa?” tanya Jo sambil merebahkan dirinya ke atas ranjang.

Andy lantas balik bertanya, “Kau tidak akan melanjutkannya?”

Jo membuang muka dan meringkuk membelakangi Andy lalu berkata, “Sudah cukup. Tidurlah.”

Andy menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. Biar bagaimana pun sedikitnya ia tahu seperti apa teman sekamarnya. Lantas, ia hanya mengedikkan bahu sekilas kemudian melanjutkan mengeluarkan dan merapikan barang-barang miliknya meski rasa kantuk mulai menyerang.

Lonewolf,” gumam Andy pelan, bahkan nyaris tidak keluar suaranya.

Malam itu terasa lebih panjang di banding hari-hari sebelumnya, meski pada akhirnya keduanya tertidur pulas.

Jo terbebas dari alam mimpi dan perlahan membuka matanya saat sinar matahari dari tirai ruangan yang telah dibuka membuatnya benar-benar terbangun.

“Rajin sekali,” gumam Jo pelan saat menoleh ke arah ranjang Andy yang sudah cukup rapi dan tidak menemukannya di dalam kamar asrama.

Dengan langkah gontai, ia hendak keluar menuju balkon dan tidak lupa mengambil bungkus rokok beserta pemantik api kesayangannya. Selepas berdiri di balkon, ia hanya menopang siku pada dinding tembok balkon sembari menatap langit biru yang cukup cerah.

Kemudian terdengar teriakan kecil dari arah bawah. Andy. Dia meneriakkan “Bro!” sambil berlari kecil dan melambaikan tangannya beberapa kali.

Jo hanya mengangkat dagu pelan ke arah Andy sambil mengembuskan asap rokok dari mulutnya. Andy hanya tersenyum kecil dan kembali melanjutkan aktifitasnya.

Lihat selengkapnya