Tersisa dua hari sebelum Jo benar-benar akan belajar di Ashford. Pagi itu, seperti biasa ia tengah mengisap sebatang rokok dan berdiri di balkon. Namun, kali ini ia tidak sendirian, tetapi ditemani oleh Andy.
“Ingin merokok?” tawar Jo sambil menyodorkan bungkusan rokok yang berwarna biru tua dengan corak bergaris merah dan emas.
“Tidak,” tolak Andy sambil menggeleng pelan.
“Yakin?” Jo menatap Andy seakan merasa tidak percaya remaja seumurannya menolak untuk merokok.
“Yeah, tentu saja. Aku punya target dan alasan sendiri untuk itu,” sahut Andy sedikit menjelaskan.
“Baiklah,” ucap Jo.
Keduanya mulai mencoba mengakrabkan diri dengan obrolan ringan. Seperti biasa, Jo lebih sering menahan untuk bercerita jika menyangkut tentang hal pribadi. Berbeda dengan Andy yang leluasa menceritakan hal apa pun tanpa pertimbangan.
Seperti membicarakan tentang impiannya memasuki Universitas Ashford dan target utamanya mengenai bisa menggali lebih dalam tentang Fakultas Primal yang menurutnya cukup misterius, tetapi berasa seperti sebuah tambang emas. Bagaimana tidak, bukan saja terasa seperti keistimewaan, perbedaan mencolok lainnya adalah di mana seorang pelajar menimba ilmu di universitas terbaik, mendapatkan ilmu secara gratis tanpa beban biaya itu adalah impian pelajar yang berambisi.
“Bagus sekali kau sudah mengejar sebuah potensi dan membangun impian,” kata Jo.
“Bukankah semua pelajar yang mendaftar dan berhasil masuk di universitas ini berambisi sama?” Kalimat Andy cenderung menjadi sebuah pernyataan yang dibungkus oleh pertanyaan.
“Tidak. Tidak denganku,” ungkap Jo yang menggeleng pelan sambil tersenyum serta bibirnya meniupkan kepulan asap rokok yang diisapnya.
“Bagaimana bisa tidak?” Andy pun heran, terlihat kedua alisnya tertaut.
“Ibu dan ayahku. Mereka yang mendorongku hingga bisa sampai di tempat seperti ini,” ungkap Jo, meski awalnya ia agak ragu menceritakan hal pribadi pada Andy.
Akan tetapi, Jo yang ingin menyanggah bahwa tidak semua pelajar yang lolos masuk Ashford adalah murid yang berambisi, setidaknya ada satu yang bukan karena itu alasannya dan itu adalah dirinya.
“Tapi, bukankah tidak mudah bisa lolos sampai di tahap ini?” Andy menyipitkan matanya.
“Aku tidak tahu apakah ini disebut keberuntungan atau kesialan. Tapi, aku percaya bahwa takdir bermain dalam hal ini.” Jo balik sekilas menatap Andy, bahunya sedikit menegang.
“Tampaknya kau tidak nyaman menceritakan secara keseluruhan. Jangan memaksakan diri.” Andy mendekati Jo dan menepuk pelan kedua bahu lawan bicaranya sehingga bahu itu turun perlahan, bermaksud agar menenangkan Jo.
“Fakultas apa yang kau kejar di Ashford?” tanya Andy.