Seorang remaja mengenakan singlet biru berlari-lari pelan di pagi yang sejuk, ia tengah mengitari beberapa gedung fakultas di Ashford yang cukup luas. Topi merahnya menempel di kepala disertai senyuman tipis di bibirnya.
Namanya adalah Langit, anak remaja berasal dari Indonesia. Dia pun salah satu anak dari ratusan mahasiswa baru yang berhasil lolos kualifikasi dan berhak berkuliah di Ashford.
Hanya tinggal hari ini saja waktu dia untuk menikmati hari kebebasan sebelum aktifitas belajar di Ashford. Hatinya berharap ia bisa menjadi bagian dari Primal, ini adalah sesuatu yang sangat penting baginya yaitu mendapatkan pendidikan gratis agar beban orangtuanya berkurang.
Sudah cukup jika ayah dan ibunya hanya menjual tanah demi memberangkatkannya le London dan bersekolah di Ashford. Jika ia berhasil masuk ke Primal, maka ia hanya cukup fokus belajar tanpa mengkhawatirkan keuangan orangtuanya yang sangat terpepet untuk seluruh biayanya nanti selama di Ashford.
Dalam tengah aktifitasnya itu, dia berpapasan dengan Andy yang juga memang rutin lari pagi. Andy teringat dengan topi merah yang juga sempat ia lihat di Planetarium kemarin.
“Hey!” sapa Andy yang kemudian kecepatan larinya menurun pelan untuk mengimbangi Langit.
“Hey!” Langit mengangkat dagu pelan sambil tersenyum tipis.
Keduanya berlari beriringan pelan, hingga akhirnya Andy membuka percakapan.
“Dari mana asalmu, kawan?” tanya Andy.
“Indonesia. Dan kau?” Langit menjawab pertanyaan itu sambil bertanya balik pada Andy.
“Hey? Indonesia?” Andy tidak menyangka ada lagi seseorang yang berasal dari Indonesia selain Jo. “Aku dari Jerman. Namaku Andy.”
“Namaku Langit,” ujarnya bergantian memperkenalkan diri.
“La … ngit?” Andy bergumam dan berpikir sejenak.
“Yeah. Langit. Atau dalam bahasa Inggris bisa juga berarti ‘Sky’,” jelas Langit sambil tersenyum tipis, pelafalan bahasa Inggrisnya lumayan.
Andy tampak masih berusaha menyebut penggalan La dan Ngit agak kesulitan. Langit sedikit terkekeh dan kemudian mengeja satu per satu huruf namanya. L-A-N-G-I-T.
Sejurus kemudian Andy malah menyebutkan “Lenjit?”
Nyaris Langit tertawa lepas mendengar pengucapan Andy yang lumayan membuatnya tergelitik.
“Bukan. Bukan seperti itu.” Langit menggeleng pelan sambil terkekeh.
Andy pun ikutan terkekeh sambil melanjutkan aktifitas lari pagi mereka. Karena kata ‘Langit’ agak sulit diucapkan, lantas Andy berkata, “Kupanggil Sky saja. Tidak apa-apa, kan?”
Ini pertama kalinya Langit mendapat julukan lain dari orang asing. Ia mengangguk pelan dan merasa tidak mempermasalahkan panggilan tersebut. Sky dan Langit apa bedanya, hanya transliterasi semata. Maknanya tetaplah sama. Namun, lucu juga dengan cara berpikir Andy yang sampai berpikir sejauh itu.
Ketika Andy melihat topi merah yang dikenakan Langit itu lagi, topik pembicaraan mulai teralih pada pertanyaan lain.
“Apa kau kemarin mendatangi Planetarium yang diadakan oleh Pak Collins?” tanya Andy.
Langit mengangguk. “Yeah.”
“Kau menikmati semua pertujunkkan di Planetarium itu?” tanyanya lagi.
“Sebenarnya hanya ingin mengincar formulir pendaftaran untuk Fakultas Primal,” jawab Langit dengan jujur.
“Hey, kau melakukan itu juga. Aku juga,” kata Andy merasa akrab karena dia dan Langit memiliki pemikiran yang sama.