Limits of Desire

R.J. Agathias
Chapter #5

Bab 05 - The Beginning

Ini adalah hari pertama Jo dan seluruh mahasiswa baru di tahun itu belajar di Ashford. Meski bagi Jo, memang terasa ada hal yang tak biasa tengah mengintai kehidupannya di sini.

Padahal Jo bisa merasakan pengembangan dan sistem pembelajaran yang sangat berbeda sekali sudah cukup terasa di awal pertemuan dengan dosen yang mengajarinya. Itu pun terjadi pada seluruh mahasiswa baru lainnya, benar-benar bisa merasakan kualitas pengajaran tingkat super.

Akan tetapi, tetap saja ada yang mengganjal dan pikirannya terdistraksi tentang Primal, Andy yang runtuh tentang kepercayaannya terhadap kesan positif di Primal. Namun, anehnya Andy tetap berlari maju meski dengan penuh keraguan di dalamnya.

Ada sebuah regulasi penting bagi mahasiswa yang berkuliah di Ashford. Di mana mereka wajib mengenakan kemeja seragam sebagai simbolik istimewa bagi Ashford itu sendiri.

Seperti yang diketahui bahwa mayoritas universitas di seluruh dunia, tidak ada kewajiban mengenakan seragam. Namun, di beberapa negara tertentu tetap ada yang mewajibkan mengenakan seragam dan Ashford merupakan salah satu di antaranya.

“Jo!” seru Andy dari kejauhan ketika berjalan menuju arah sebuah kafetaria yang tidak jauh dari fakultas Astronomi.

“Hmm.” Jo menoleh sambil mengangkat dagunya sekilas.

“Kau tidak punya teman selain aku, ya? Kenapa mengikutiku sampai sini.” Jo mulai bersikap sarkasme terhadap Andy. “Jarak dari Fakultas Psikologi ke kafetaria ini cukup jauh loh!”

Justru Andy balik mengolok-olok Jo dan berkata, “Sudah jelas di sini kaulah yang tidak pandai beradaptasi dan bersosialisasi. Aku khawatir kau tidak memiliki teman di sini.”

Mendengar itu, Jo tidak membalas ucapan Andy sepatah kata pun. Karena apa yang diucapkannya memanglah fakta. Namun, Jo enggan mengakuinya dan memilih melengos pergi begitu saja.

“Hey … Kau marah, ya?” Nada Andy terdengar nyaris seperti tertawa saat melihat kawannya seperti sedang merajuk.

“Berisik. Urus dirimu sendiri,” pungkas Jo sambil terus berjalan hingga berdiri tepat di depan pintu kafetaria.

Tidak. Jo tidak merajuk, tidak juga marah. Ia hanya kesulitan bagaimana bersosialisasi dengan proses adaptif. Bersyukur jika Andy bukanlah orang yang sensitif dan ia termasuk yang setia kawan.

Keduanya bergegas memasuki kafetaria dan memesan makanan. Waktu jam istirahat di siang hari menjadi rutinitas baru selain jam waktu makan siang. Jo dan Andy tampak membawa piring masing-masing dan mencari meja yang masih kosong.

“Di sebelah sana,” kata Andy sambil menunjuk ke arah meja yang paling pojok.

“Ok.” Jo mengangguk dan berjalan ke arah meja sambil menenteng piring dan sebotol air mineral kemasan di tangannya.

Tanpa ragu, keduanya mulai menyantap makan siang dengan lahap. Keduanya tampak terlibat dengan percakapan ringan. Semacam omong kosong atau candaan anak remaja pada umumnya.

Percakapan pun berubah ketika mulai menyinggung perkara Fakultas Primal. Andy mengatakan bahwa pengumuman siapa mahasiswa yang terpilih akan diumumkan tiga hari lagi.

Lihat selengkapnya