Blurb
Dada ibuku tidak lagi mengalirkan susu, dan hutan kami tidak lagi mengalirkan kehidupan. Mereka menamainya pembangunan, tapi kami menyebutnya pembantaian.
Ketika rumah kami dikulisi secara paksa atas nama komando dan pembangunan, aku terjebak dalam pusaran dosa yang bukan ciptaanku. Aku menyaksikan tanahku menjerit, rakyatku terasing di tanah sendiri, dan jiwaku perlahan ikut mati bersama kasuari.
Di satu sisi, darah leluhur mengalir di nadiku, mengikatku pada pohon-pohon raksasa dan sungai yang dulu memberi kami kehidupan. Di sisi lain, deru gergaji mesin dan derap sepatu lars terus merobek belantara kami, mengubah tanah keramat menjadi padang debu yang gersang dan mati.
apakah seorang anak yang kehilangan rumahnya masih punya hak untuk bermimpi?