
SANTOS
"Bapak su taruh mimpi besar di sa punya pundak. Biar sa menangis hari ini, besok sa berdiri kuat untuk bikin bapak tersenyum dari surga.Tanah Papua ini saksi, sa punya bapak adalah pahlawan terbaik yang pernah sa miliki."
***
Aku duduk di tepi ranjang, meremas sprei tebal di bawahku.menunduk, menyembunyikan wajah di telapak tangan, mencoba menyerap dinginnya lantai di bawah kaki agar pijakanku tak lagi terasa melayang.napas tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lolos dari tenggelam. Dadaku naik-turun memburu, sementara keringat membasahi leher dan pelipisku.
Dalam remang kamar istirahat yang sunyi,aku hanya bisa menatap langit-langit. mencoba meyakinkan diri bahwa aku sudah bangun,bayangan terkutuk dua puluh lima tahun silam itu hanya bagian dari mimpi.
Aku terkekeh pelan. Sebuah tawa pahit yang tak punya sedikit pun nada humor.