Di ruang tamu, Aris masih duduk di sofa sambil fokus bermain game di ponselnya. Sementara itu, Kira menonton televisi.
Di layar TV terlihat sebuah dunia es. Seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang melindungi anak dari Ratu Es. Di depan mereka ada pasukan es berbentuk tengkorak dan makhluk-makhluk aneh yang terus menyerang.
Namun kedua orang itu terlihat tidak bisa melawan. Mereka hanya mundur sambil melindungi anak tersebut.
Kira mulai kesal melihatnya.
"Kenapa mereka cuma diam saja..." kata Kira.
Pasukan es semakin mendekat.
Kira mengepalkan tangannya dan berkata dengan kesal,
"Kalau aku ada di sana, aku pasti menghajar mereka."
Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi.
Mata Kira mulai mengeluarkan cahaya.
Cahaya itu semakin terang, seperti energi yang muncul dari dalam matanya.
Angin di ruang tamu berhembus pelan.
Kira terkejut.
"Apa... ini?" kata Kira bingung.
Di saat yang sama, layar televisi mulai bergetar sedikit, seolah-olah dunia di dalamnya sedang bereaksi.
Di ruang tamu, Aris masih duduk di sofa sambil bermain game. Namun tiba-tiba ia merasa ada cahaya terang di sekitarnya.
Aris mengangkat kepalanya.
Ia melihat mata Kira bersinar terang, seperti memancarkan cahaya dari dalam.
Aris langsung kaget.
"Kira?!" kata Aris sambil berdiri.
Kira sendiri terlihat bingung. Ia memegang kepalanya karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Aku... aku juga tidak tahu," kata Kira.
Cahaya dari mata Kira semakin kuat.
Aris menatap Kira dengan wajah heran dan sedikit khawatir.
"Tunggu... ini pasti ada hubungannya dengan kristal yang kita temukan tadi di sungai," kata Aris.
Tiba-tiba Aris merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.
Matanya terasa hangat, seperti ada energi yang bergerak di dalamnya.
"Apa... ini?" kata Aris sambil memegang wajahnya.
Perlahan, mata Aris juga mulai mengeluarkan cahaya. Kini cahaya muncul dari mata Kira dan Aris secara bersamaan. Angin di ruang tamu mulai berhembus pelan, dan layar televisi di depan mereka bergetar semakin kuat.
Kira dan Aris saling menatap dengan terkejut.
"Jangan-jangan..." kata Kira.
Sebelum mereka sempat mengatakan apa pun lagi, cahaya dari mata mereka langsung menyatu dengan layar TV.
Sebuah retakan bercahaya muncul di depan televisi. Retakan itu perlahan membesar seperti portal. Seolah-olah dunia di dalam televisi benar-benar terbuka di hadapan mereka.
Kira dan Aris mundur beberapa langkah dengan kaget.
"Apa... ini portal?" kata Aris dengan suara pelan.
Di dalam retakan itu terlihat dunia es yang sama seperti di televisi-langit kelabu, tanah tertutup salju, dan pasukan es yang menyerang.
Kira menatap portal itu dengan serius.
"Ini... dunia yang tadi di TV," kata Kira.
Aris masih tidak percaya.
"Jangan bilang kita bisa masuk ke sana..."