Anna mengejar langkah Rio dengan napas tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan. Sepatu yang dikenakannya terasa berat, seolah menambah beban di hatinya. Ia mencoba merangkai kata-kata di kepalanya, namun semua terasa salah, tak ada yang cukup kuat untuk mengungkapkan ketakutannya.
Pagi ini, dengan mata yang masih sembap dan kepala yang nyaris tak tidur, Anna sengaja mendatangi rumah Rio. Perasaan tidak enak yang menggerogotinya semalam suntuk tak memberinya pilihan lain selain datang dan menemuinya secara langsung.
"Mas, kamu marah ya sama aku?" tanya Anna akhirnya. Suaranya bergetar, dan matanya memancarkan kekhawatiran yang dalam—kegelisahan yang tak lagi bisa ia sembunyikan terhadap hubungan mereka.
"Aku minta maaf sama sikap Papa kemarin."
"Aku harap kamu bisa ngertiin sikap Papa."
Rio menghentikan langkahnya tiba-tiba. Tubuhnya menegang, rahangnya mengeras. Ia berbalik perlahan, menatap Anna dengan ekspresi yang gelap dan sulit ditebak.
"Apa kamu paham maksud sikap Papa kamu kemarin sama aku?" tanya Rio dengan suara berat. Tatapannya tajam, menusuk.
"Kamu lupain aja lamaranku waktu itu ya."
Anna terdiam sesaat, napasnya tercekat.
"Maksud kamu?"
"Kenapa dibatalin Mas? Kamu udah gak sayang sama aku?"
Rio menghela napas panjang, seolah sedang menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam.
"Aku sayang sama kamu, tapi emangnya kamu yakin kita bakalan bisa nikah?" balas Rio, raut wajahnya semakin serius, nyaris dingin.
"Kenapa engga, Mas?" balas Anna tajam, nada suaranya meninggi karena panik.
"Kamu kenapa tiba-tiba ragu kayak gini?"
"Apa karena sikap Papa kemarin?"
"Papa emang kayak gitu, kamu gak perlu ambil serius sikap Papa sama kamu."
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dari sorot matanya, terlihat jelas Anna masih berusaha mati-matian mempertahankan hubungan ini.
"Kamu yakin bisa ikuti agamaku?"
"Anna---- keluarga kita sama-sama penganut yang kuat. aku rasa gak mungkin salah satu dari kita bisa mengalah."
"Kalau kita masih keukeuh maksain, itu sama aja aku udah jadi pria teregois."
"Kamu yakin bisa memeluk agama yang sama denganku?" tanya Rio menatap Anna lurus, tanpa menghindar.
"Ini masalah serius, Ann. Menyeret keluarga besar kita."
Jantung Anna berdegup kencang. Tangannya refleks menggenggam tangan Rio dengan kuat, seakan takut ia akan benar-benar pergi.
"Ta-tapi aku gak mau hubungan kita berakhir begitu aja gara-gara masalah ini Mas," balas Anna, suaranya nyaris pecah.
"Aku sayang banget sama kamu."
"Kita bisa pikiran cara buat atasi masalah ini. Dan... Masalah agama, aku akan coba pelan-pelan mencari jawabannya," terang Anna, berusaha terdengar yakin—meski di dalam dirinya sendiri, keraguan itu menggerogoti.
***
Anna duduk sendirian di pojokan kafe. Cahaya lampu temaram jatuh lembut di wajahnya, sementara alunan piano memenuhi ruangan dengan nada-nada sendu. Setiap denting seakan menekan dadanya, membangkitkan perasaan kacau yang sejak tadi tak kunjung reda.
Ia menatap kosong ke arah jendela. Di balik kaca itu, dunia tetap berjalan seperti biasa, sementara dirinya terombang-ambing di lautan ketidakpastian. Kata-kata Rio terus berputar di kepalanya, berulang, menghantam hatinya tanpa ampun.
Waktu terasa berjalan lambat, seperti sengaja menahannya dalam kebimbangan. Detik demi detik berlalu, namun jawaban yang ia cari tak kunjung datang.
Ketika alunan piano perlahan berganti dengan suara adzan yang memanggil sholat ashar, Anna semakin tenggelam dalam keheningan. Suara itu terdengar agung, menenangkan—namun juga menambah beban di dadanya.
Anna memejamkan mata sejenak, mencoba menarik napas dalam-dalam. Ia ingin tenang, ingin yakin. Namun pertanyaan-pertanyaan itu terus datang tanpa izin. Bagaimana ia bisa memilih yang terbaik untuk dirinya dan hubungannya dengan Rio?
Di tempat lain, Rio duduk sendirian di sudut kafe. Cangkir kopi di depannya sudah dingin, tak tersentuh. Pikirannya sama kacaunya dengan Anna. Selain masalah agama, satu hal lain terus menghantui benaknya: perbedaan kasta keluarga Anna dan dirinya.
Ia menunduk, menatap meja, merasa kecil.
"Ya Allah, kenapa baru kepikiran sekarang sih kalau aku ini gak pantes buat Anna."
"Woi!! Kenapa lu?" suara teman akrabnya tiba-tiba menyela.
"Engga, gue lagi capek aja."
"Oh."
"Gimana lu udah nemuin tempat strategi buat bisnis parfum kita?"
"Gak taulah,pusing gue," ketus Rio.
"Gimana sih lu? Kan tugas lu yang nyari tempat."