Lipstik ~Novel~

Herman Siem
Chapter #3

Hujan Merasuki Kesedihan

"Trug ... Trug ..." suara viper naik turun menyapu rintik hujan yang menghalangi pandangan kaca luar mobil.

"Kamu'kan bisa sabar sedikit tungguin, Bunda! Andai saja kamu sabar! Kan' kamu jadi tidak basah-basahan begini, Putri!" dua tangan tetap pegang setri mobil, tapi mulutnya dari tadi cuman marah-marah saja.

Putri cuman terdiam, sisa basah air hujan masih menyelimuti seluruh seragam putih-abu-abunya, tapi jaket biru miliknya Oscar masih membungkus setengah tubuhnya.

Rambutnya saja sudah basah, apalagi sepatu kets hitam masih membungkus dingin sisa air hujan masih bersemayam dalam lekukan sepatunya.

"Kamu harus tahu, Putri! Apa yang Bunda lakukan semua ini? Semua demi kamu! Demi masa depan kamu!" tetap saja kemarahan Nadira masih terus mengoceh sepanjang jalan.

Diluar rintik hujan masih turun, kiri-kanan tepian jalan makin merasakan bersuka citanya. Rerimbunan dedaunan masih terguyur kesejukan air surgawi dari kebaikan Sang Pencipta.

Genangan air pasti sudah membasahi setiap permukaan jalan, cipratan air makin menebar ketepian jalan ketika roda ban melindasnya.

Langit makin terasa gelap, tidak beraninya sinar matahari mengintip barang sedikitpun untuk masuk celah serpihan gumpalan awan hitam memayungi Kota Bogor.

Mobil minibus silver terus meluncur berjalan susuri jalan basah. Masih terdengar dari kejauhan ocehan kemarahan Nadira pada Putri yang hanya terduduk diam mungkin menahan rasa marahnya dalam hati.

"Bunda tidak mau melihat kamu main hujan-hujanan lagi!" terus dan terus sepanjang jalan ocehan kemarahan Nadira masih terdengar.

***

"Brug" pintu mobil ditutup kencang.

Putri lantas segera masuk berlari kedalam rumah, padahal dilantai menyisahkan tapakan basah bekas sepatu kets hitamnya.

Menahan kesal Nadira setelah turun dari mobil sambil menjinjing tas hitam pada tangan kirinya.

Sebelum masuk Nadira perhatikan halaman rumah yang cukup lumayan besar. Hampir semua tanaman hijaunya begitu riang masih meneriman guyuran hujan surgawai dari langit, masih belum menunjukan tanda kapan akan berhenti rintik hujan.

Biasanya jam segini menjelang senja sudah terpakir mobil minibus hitam berjejer dengan mobil sehari-seharinya Nadira.

Tatapan dua mata bingung Nadira lalu beranjak berbalik dan masuk kedalam rumah, pintu lipat dua dengan setengah bagian atasnya berkaca sudah tertutup.

Bangunan rumah kini sudah sudah basah, hanya kabut dan bercampur rintik hujan sejak dari tadi tidak mau beranjak pergi.

Bangunan rumah bergaya asri modern terletak dipingiran Kota Bogor, dengan sentuhan warna nuansa natural warna-warni bumi.

Belakangan ini, nuansan earth tone memang menjadi salah satu tren desain rumah asri modern. Suasana asri dari konsep warna bumi dapat di ciptakan dengan memadukan warna coklat terang pada dinding dan warna beige pada lantai.

Lihat selengkapnya