Lipstik ~Novel~

Herman Siem
Chapter #4

Tidak Sampai Hati

"Brak" suara pintu tertutup kencang bikin Ati, wanita tua yang pernah melahirkan Nadira jadi kaget.

Mungkin saja Ati sedang istirahat dalam kamar, dia sekedar baringkan tubuhnya, mendengar suara pintu tertutup kencang. Jadi bikin dia sedikit terganggu dan sampai keluar dari dalam kamar.

Dengan balutan atas kebaya putih berenda hijau garis biru dan lilitan kain coklat muda bercorak bunga membalut setengah tubuhnya kebawah. Rambutnya sudah memutih berkonde kecil kelihatan dari belakang.

"Nadira," sudah menutup pintu handle pintu tangan kirinya Ati sambil panggil anaknya.

Menahan kesal Nadira terduduk, padahal dia mau masuk kedalam kamar tidak jadi. Sudah keburu dipanggil Ibunya, lalu dia juga terduduk berhadapan.

"Ibu, semakin prihatin dengan kamu. Kamu jangan terlalu bawel dengan Putri. Kasihan anakmu itu, hampir setiap hari kamu marahi saja dia," malas Nadira mendengar ocehan Ibunya.

"Ibu, selalu saja bela dan manjain, Putri!" sahut balik Nadira mungkin kesal pada Ibunya yang selalu membela cucunya terus.

"Ibu, tidak membela Putri. Hanya Ibu tidak sampai hati saja, kamu selalu dan hampir tiap hari memarahi Putri," ada rasa prihatin makin jelas menggurat raut wajahnya Ati pada sikap anaknya itu terlalu keras pada Putri.

"Ibu, lihat tidak dengan sikap Putri sekarang-sekarang ini? Harusnya dua mata Ibu peka melihat!" tanya jengkel Nadira pada Ibunya itu.

Tapi tidak lantas dijawab Ati, mungkin masih bingung dengan pertanyaan anaknya itu. Kenapa dan ada apa dengan sikap Putri, cucunya itu. Setahu Ati, cucunya baik-baik saja tidak ada yang berbeda dengan sikapnya.

"Putri sekarang-sekarang ini dia sering pakai lipstik," malahan dijawab sendiri Nadira.

Mungkin Nadira kesal pertanyaan tidak dijawab Ati, Ibunya itu malahan tersenyum saja seraya meledek.

"Putri pakai lipstik? Kok kamu jadi bingung, Nadira? Wajar dan tidak ada yang aneh. Dulu masa usia kamu, seperti Putri sekarang ini. Kamu dulu juga sama, waktu seumuran Putri. Kamu diam-diam pakai lipstik milik Ibu dan merias wajahmu pakai alat make'up kepunyaan Ibu. Itu wajar seumuran Putri sekarang, Nadira. Mungkin saja, Putri menginjak usia akil remajanya," tidak ada yang aneh dengan sikap cucunya, Ati beranjak bangun lalu dua kakinya mengajak kedapur.

Mesin cuci tidak lagi bergoyang dan bergerak-gerak tabungnya. Hanya kucuran air makin bebas turun penuhi tabung buat kembali membilas seragam putih abu-abunya Putri.

Antara ruangan cuci dan dapur tidak terlalu jauh, hanya sekatan tembok saja menyekat anak dan Ibunya.

Berapa kali tangan kanan Ati membalik ikan goreng mulai terlihat matang, lalu dibalik lagi agar matang sempurna ikan bermadikan minyak panas berwadah teplon ukuran 24".

"Nadira?" setelah membalik ikan goreng dalam wadah teplon.

Ati lalu berdiri disamping mesin cuci kembali bergerak memutar tabungnya.

Dua matanya lalu menatap bulir-bulir rintik hujan masih turun bebas. Rintik hujan bermain dan terciprat sentuhan rintik hujan pada kaca besar terpenjara dalam kusen kayu.

"Kamu jangan terlalu sering marah-marah. Apalagi perhatian kamu kurang sekali pada Putri dan Parhan, suamimu itu. Ya, Ibu hanya khawatir saja, Nadira. Kalau-kalau?" belum sempat melanjutkan lagi dua kaki Ati sudah mengajaknya mingser dari Nadira.

Lihat selengkapnya