Masih tidak sadarnya Parhan dengan membekas kecupan bibir lipstik merah pada kerah baju kemeja putih kanannya, berlapis luarnya setelan jas hitam.
Tatapan mata terus melihat keluar, sekali-kali berpapasan mobil didepan memantulkan sorot cahaya mobilnya. Dua tangannya tetap fokus pegang kemudi setir mobil.
Mobil terus menembus susuri jalan mulai dibayangi menebar kabut pekat gelap. Tapi sorot cahaya lampu mobil mulai membelah jalan.
Senja telah pergi, kini dia telah berganti dengan gelapnya malam. Hembusan basah angin dingin mulai mengulik, setiap relung jiwa-jiwa tersenyum menahan dingin sejuknya hawa malam.
***
Hamparan halaman rumah bernuansa asri modern kian terlihat basah seluruh bangunannya. Tampak kelihatan riang gembira pada setiap nadi urat pohon sampai merasuk masuk pada akarnya.
Sorot cahaya lampu mobil minibus hitam kelihatan masuki selasar halaman rumah. Sudah basah kelihatan nyata rintiknya masih menempel pada seluruh kabin luar body mobil.
Tidak adalagi sorot cahaya lampu mobil. Hanya jejeran seraya pasangan setia mobil minibus hitam silver dan hitam terparkir sudah berjejer diatas carpot selasar halaman rumah.
Sedikit basah wajah tampan pemilik bibir tebal beratap kumis tipis. Dua kaki berselimut sepatu pantopel hitam, berapa kali tergesek-gesek pada keset berbahan kain warna merah tua tergeletak depan pintu masuk.
"Yah?" baru saja akan menyentuh handle pintu tangan kanannya Parhan tidak jadi.
Lirikan sinis, tidak ada sapaan hangat makin tergurat jelas diwajah Nadira. Selama Parhan jadi suaminya, tangan kanannya tidak pernah disalami dan terkecup hangat bibir istrinya itu.
"Ayah!" baru saja dua kakinya akan melangkah masuk tidak jadi.
"Sepatumu basah!" menahan sabar Parhan perhatikan lantai memang ada bekas pijakan sepatu meninggalkan basah.
Wajahnya sambil melongok kedalam, ada berapa lelaki dan wanita tua terduduk nyaman diatas sopa. Dari wanita itu sempat melirik padanya, ada rasa tidak enak ketika melihat dua kaki pemilik rumah itu segera melepaskan sepasang sepatu pantopel hitamnya.
"Permisi," dengan menenteng sepasang sepatu ditangan kirinya dan tangan kanannya menenteng tas hitam.
Lemparan senyum sopan Parhan kearah tamu-tamu, mereka adalah petani yang sedang berkonsultasi dengan istrinya. Balasan senyuman lelaki dan wanita tua pada Parhan hanya berjalan menuju lorong kearah dapur.
"Bu, lebih baik kami pulang saja," mungkin tidak enak hati dari salah satu wanita berbadan tambun itu.
"Kan' belum selesai saya menjelaskan tentang gimana cara menanam budidaya padi diatas tanah darat?" dijawab Nadira menahan kesel dengan kepulangan suaminya itu.
"Nanti saja kami datang lagi, Bu." sahut lelaki kurus melirik luar masih turun hujan.
"Tapi diluar masih hujan," sambil menjawab melirik Ati keluar dari dalam kamar sedikit melempar senyuman pada lelaki dan wanita makin berjalan kearah pintu.
Ati tahu kalau menantunya sudah pulang, dia pasti kedinginan dan butuh air hangat buat mandi.