Sejak menikah dan memiliki anak, sikap Nadira tidak pernah berubah. Dia cuman hanya bisa marah dan marah saja. Dia juga selalu tidak suka dengan yang kotor-kotor. Segalanya ingin bersih dan tidak mau berantakan tapi egoisnya tidak pernah mau merapihkan rumah. Segimana tugas dan kewajiban seorang istri.
Masak, mencuci, merapihkan rumah, semua itu di kerjakan Ati. Apalagi buat menyiapkan makan dimeja meja, semua itu Nadira hanya cuman duduk makan bak ratu yang kuku jemarinya halus.
Apalagi buat memadu kasih dengan suaminya, mungkin itu terbilang sangat jarang sekali. Apalagi buat perhatikan dan kasih sayang Putri, anak semata wayangnya, itu juga tidak pernah terjadi.
Mungkin Nadira sudah lelah dan capek dengan segudang aktivitasnya mengajar dan jadi konsultasi warga petani.
"Huhhh!" tidak suka memang Nadira bila ada pakaian kotor hanya di geletakan saja diatas ranjang.
Kamar yang cukup besar, berlantai krem terang. Serta dinding warna putih makin bikin suasana jadi terang tapi tidak seterang hatinya Nadira.
Sinis dan bertanda tanya relung hatinya, ketika dua matanya sejak dari tadi tidak lepas perhatikan tangan kirinya masih pegang kemeja putih.
Kelihatan bangat lekukan belakang tubuhnya yang langsing terbalut daster merah tua bersalur kembang seroja. Tampak terlihat dari cermin lemari yang berhadapan dengan ranjang besar beralas kasur busa empuk berseprei biru muda.
"Bekas kecupan bibir?" guman bingung hati Nadira.
Makin perhatikan bekas kecupan bibir, tapi rasa-rasanya Nadira mengenali lipstik dan lekukan bibir itu. Masih membekas pada kerah kiri kemeja putih milik suaminya.
"Tidak mungkin?" bingung terduduk Nadira kali ini berhadapan dengan cermin lemari.
Raut wajahnya makin jelas tergurat kebingungan bercampur cemas, kalau-kalau suaminya itu mulai main hati dengan wanita lain. Lagi-lagi karena penasaran dilihat lagi, dua matanya makin tegas perhatikan siapa pemilik kecupan bibir itu.
"Tidak mungkin?" guman lagi penasaran.
Pintu kamar terbuka, cepat kemeja putih dan setelan jas hitam di masukan pada keranjang pakaian kotor dekat samping pintu.
Rambut tidak lagi kelihatan basah karena berapa kali husapan handuk kecilnya. Kelihatan sixpact bagian atas tubuh Parhan, bagian bawahnya masih terbalut handuk warna putih.
Hanya diam pandangan Nadira perhatikan suaminya membuka lemari. Hanya tumpukan pakaian bertumpuk rapi dan satu tangannya mengambil setelan piyama biru tua. Kelihatan lagi raut wajah masam kini bertambah penasaran dari cermin lemari yang sudah tertutup pintunya.
"Yah?!" beranjak bangun Nadira.
"Iya, Bun?" sambil pakai setelan atas piyama.
Tampak dari jendela tirainya terbuka lebar sekali, lirikan sinar cahaya rembulan malam. Malam itu sangat indah sekali dengan bertebaran jutaan bintang berpayung pada langit malam.