Hanya berdiri dibalik pintu tertutup, tatapan cemburu dan sinis kembali perhatikan kecupan lipstik pada kerah kemeja suaminya.
Sekali-kali jempol jari tangan kirinya mengusap kecupan lisptik masih membekas tidak akan menghilang dari kearah kemeja suaminya itu. Apalagi dari dalam hatinya Nadira makin berkecamuk marah curiga dan penasaran.
Lalu terduduk berhadapan dengan cermin meja rias berbentuk oval. Jelas kali ini raut wajahnya makin tergurat kesal. Hanya terpangku kemeja putih diatas duduknya Nadira, wajahnya sempat melihat kearah jendela masih terbuka lebar tirainya.
Malam terlihat dari halaman samping, tapi kebaikan sinar cahaya rembulan malam tampak jelas menyinari kegelapan. Terlebih kedipan jutaan mata kucing selalu terpancar menemani rembulan malam sampai menjelang pagi.
"Tidak mungkin?" guman Nadira makin penasaran tapi hatinya sudah menuduh seseorang.
Handle pintu dilirik bergerak, cepat kemeja putih di masukan kedalam laci meja rias. Berpura-pura dua tangannya meriap rambut dan tidak mau kalah menyapu bibir dengan balutan lipstik warna senada dengan daster yang dipakai malam itu.
Mungkin apa yang di lakukan Nadira bisa memancing hasrat suaminya itu, tapi malahan dia sudah terbaring diatas ranjang. Raut wajahnya hanya tersenyum seraya benaknya masih membekas sesuatu yang membuat wajahnya kelihatan tersenyum saja.
Sesaat berdiri Nadira didepan ranjang, seraya ingin menunjukan bila malam itu dia ingin sekali disentuh dan ada perhatian dari suaminya yang hanya terbaring tersenyum saja.
"Ayah!" sewot mungkin cuman di cuekin doang.
"Ya, Bun?" balik tanya Parhan sempat perhatikan Nadira menebar senyuman.
Tapi tidak ada kata pujian dan rayuan manja dari Parhan. Kesal juga Nadira tapi hatinya masih ingin bertanya siapa pemilik kecupan lipstik itu.
"Ayah, tadi siang?" sepintas terdengar pertanyaan Nadira bisiki kupingnya.
"Tadi siang? Ayah kerja Bun," jawab pelan sekali terucap dari bibirnya Parhan.
Mungkin Parhan takut juga kali, kalau-kalau malam itu istrinya mulai curiga. Kalau tadi siang dirinya sempat dipeluk dan ditemani sekretaris cantiknya itu.
"Kok tumben malam ini Bunda?" mungkin cuman mengalihkan saja pertanyaan parhan sambil perhatikan wajah istrinya mulai tersenyum.
Tapi aneh kenapa lagi-lagi cuman bertanya doang, tidak ada sentuhan halus dan belaian serta husapan. Padahal itu yang di maui Nadira dari tadi. Makin ada tatapan curiga makin tergurat jelas dari wajahnya Nadira, perhatikan lagi-lagi suaminya itu hanya kembali tersenyum sambil terbaring.
Dirinya seraya hanya di biarkan saja, bak meneequin yang terbalut gaun indah berwajah cantik tapi hanya disentuh sesaat lalu terlupakan.
"Ayah. Bunda mau tanya?!" keras juga terdengarnya.
Tapi cuman di cuekin, padahal kedengaran kencang juga pertanyaan dari mulutnya Nadira. Berang kesal juga perhatikan suaminya itu hanya terbaring mesem-mesem tidak jelas.