Tersenyum sumringah terpancar dari raut wajah Putri. Dia pagi ini berjalan keluar dari dalam kamar. Seragam putih abu-abu makin jelas cerah, secerah pagi melebur menyatu dalam segenap hatinya.
Sepasang kaos kaki putih menyelimuti sampai mata kaki terbungkus sepatu kest hitam. Makin cerah suasana pagi, makin sumringah raut wajah Putri mencekek leher botol lalu di teguknya bibir botol susu putih.
"Brub" pintu kulkas tertutup lagi.
"Nanti perut kamu sakit, Putri! Pagi-pagi sudah minum susu dingin!" biasa cuman tegor marah doang.
Itulah Nadira setiap harinya, apalagi kalau pagi hari sudah datang. Dia cuman duduk rapi, santap sarapan pagi dan mulutnya suka sering menegur marah anaknya.
"Ayah mau juga'kan susu dinginnya?" setelah mencekek leher botol susu tersisa setengah di letakan pada meja.
"Putri?" seraya melerai Ati pada cucunya.
Dua tangan Parhan masih sibuk mainkan garpu dan sendok diatas piring. Lalu sendok menunggu giliran menunggu didepan hadapkan pada mulutnya masih mengunyah.
"Ayah minum dulu susu dinginnya. Biar hati yang panas biar lekas dingin," sindiran terucap dari mulut Putri, agar Bundanya itu tidak nafsu makan lagi.
Polesan tebal lipstik dibibir Putri makin bikin hatinya makin meradang marah. Makin tidak bisa menahan sabarnya Nadira beranjak bangun lalu menghampiri anaknya itu.
"Hapus lipstik itu!" sambil sodorkan tissue kewajah Putri terdiam melirik Parhan dan Ati.
"Hihhh! Bunda! Apa-apaan si?!" tissue diambil.
Tapi sengaja dibuang kelantai oleh Putri. Lantas kaki kanannya menginjak tissue tipis yang tidak berdaya itu.
"Bunda! Bunda!" tidak sabaran tangan kiri menahan dagunya Putri dan tangan kanannya Nadira menghapus paksa polesan lipstik pada bibirnya.
"Nadira," cepat mendekati Ati.
"Bunda!" terganggu sarapan paginya Parhan menahan emosinya sama sikap istrinya itu.
"Bunda jahat!" tuding sekilas diwajah Nadira.
Wajah sinis Putri sebentar menatap kesal wajah Nadira terduduk kesal berhadapan piring masih utuh sarapan pagi, tapi sudah tidak bernafsu makan lagi.
"Nek, aku berangkat dulu," tarik dan cium tangannya Ati sesaat mendarat pada bibir Putri yang tidak lagi terbalut lipstik.
"Putri, tunggu. Kamu bareng sama Ayah saja," terhenti langkah Putri sambil mengambil tas ransel hitamnya.
Parhan sempat melirik istrinya. Nadira wajahnya menahan murka dengan sikap anaknya itu yang makin bikin jengkel.
Hanya terduduk saja Nadira perhatikan dari lorong yang tidak jauh dari ruangan tengah, dimana dirinya masih terduduk diruangan makan.
Mungkin terasa tidak nyaman lehernya terlalu tercekek dasi biru. Dua kali tangan kirinya Parhan mengendorkan dasi sudah duduk dibekakang setir mobil.
"Putri, kamu naik mobil Bunda saja!" sudah terlanjur ajakan Nadira.
Putri sudah duduk disamping jok kiri bersebelahan dengan Ayahnya mulai pegang setir mobil.