Sejak dari tadi Nadira hanya terduduk dibalik kemudi setir mobil. Pandangannya hanya melihat kearah luar mobil tersekat kaca melengkung tebal. Keluar masuk pegawai tersapa disambut senyuman satpam berseragam setelan coklat, lengkap dengan atributnya.
Mungkin hari ini Nadira tidak mengajar, padahal hari sudah makin siang dan bahkan mulai menjelang senja. Tapi dari tadi dua matanya hanya terdiam menyorot tajam keluar.
PT. Beautiful Wowan, terpampang besar berdiri tegak terpaku diatas atap gedung perkantoran. Nadira tahu bila satu blok perkantoran itu adalah miliknya suaminya, padahal bila Nadira tidak jadi dosen saja. Parhan cukup, bahkan lebih bisa menghidupinya, tapi karena keras hatinya Nadira, sampai dirinya tetap ingin menjadi dosen.
Wajahnya terasa makin tegang, menanti seseorang yang belum kunjung datang, padahal sudah di tunggu-tunggu dari tadi. Terjejer rapi mobil terparkir hamparan aneka jenis merk mobil. Mungkin kali ini minibus silver sudah terpasung himpitan mobil lainnya.
Masih tidak kunjung datang seseorang yang sedang ditunggu dosen cantik itu. Lihat raut wajahnya makin terbelenggu cemas terbalut makin curiga.
Kesabaran sejak dari tadi sudah bersabar menunggu, sampai dua kakinya gatalnya ingin mengajak turun dari kabin bawah mobil, tempat bersarang pedal gas dan pedal rem.
Dua matanya makin melotot seraya akan pergi beranjak melompat dari kelopak bulat mata. Tidak jadi telunjuk jari kanan Nadira menekan knop otomatis pintu saat dua kakinya makin gatal mengajak ingin turun.
Sangat manja perlakuan sekretaris cantik langsing pada Parhan sempat terpancing. Tapi hanya lemparan senyuman kagum seraya memuji dalam hatinya menatap wajah cantik Rena berbalut make'up sempurna.
Tidak ada rasa sungkan dan risih, rangkulan jemari tangan kirinya Rena menyelip diantara pinggang belakang lelaki yang jadi selingkuhanya itu. Sempat dilirik satpam berdiri depan pintu kaca, seraya menonton festival gratis percintaan terlarang.
Terpancing makin cemburu jantungnya berdegub kencang dan bibirnya makin tidak tahan ingin marah-marah. Makin gatal dua kaki Nadira berselimut sepatu hak tinggi hitam ingin turun, tapi tidak jadi makin terasa raut wajahnya menahan cemburu.
Makin manja dengan sentuhan dua tangan Rena seakan ingin memeluk Parhan. Kini wajah cantiknya mendarat pada dada pemilik wajah tampan. Bibirnya makin jelas terbalut lipstik warna sama dengan warna masih membekas pada kerah kemeja putih milik Parhan.
Tapi ada rasa ragu ketika Nadira teringat warna lipstik yang dipakai Putri, kini deraian air mata makin tidak tahan terbendung lagi. Sedikit demi sedikit mulai meronakan dua matanya dengan disertai tetesan air mata berapa kali terseka jemari tangan kirinya.