"Putri?"
"Udah, Raihan!" baru saja Raihan akan turun dari motor vespa matic warna marron tidak jadi.
Putri hanya berdiri, depan sekolah. Mungkin sebentar lagi Ayahnya akan datang menjemput.
"Makasih, Raihan. Loe udah mau nemenin gua jalan," sebenarnya bukan itu jawaban yang ditunggu Raihan.
Lalu-lalang kendaraan makin padat, karena mulai datang sore. Cuman berdiri terdiam, tas ransel hitam sengaja di geletakan samping kaki kanannya.
Langit makin sulit diterka, walau terlihat cerah, tapi tidak menutup kemungkinan tiba-tiba akan turun hujan. Namanya juga Kota Bogor, Kota Hujan.
Terpaksa Raihan turun dari motor vespa marron maticnya, langkahnya sungguh berani mendekati Putri, gadis yang sampai detik ini masih menggantung jawaban.
"Putri?"
"Apaan si, Raihan?!" sulit memang rasanya buat mendapatkan jawaban dari Putri.
"Udeh loe balik aja deh! Bentar lagi Ayah gua datang!" sahut Putri rada kesel sama Raihan ngeyel.
"Gua minta jawaban dari loe, Put?" Raihan tidak akan balik dan duduk manis disadel jok motornya sebelum mendapatkan jawaban dari cewek yang masih belum kasih jawaban pasti.
"Gua ngak akan balik, Put. Sebelum loe kasih jawaban sama gua!" memang karep juga Raihan.
"Maaf, Raihan! Gua masih ngak bisa terima loe!" tandas tegas juga jawaban Putri.
Sontak wajahnya sumringah semyum, sedikit membungkuk lalu tangan kanannya mengambil tas ransel hitam.
"Ayah ..." teriak Putri.
"Tapi Putri?"
"Ngak ada tapi-tapi, Raihan. Gua, ngak bisa terima loe! Hati gua udah terlanjur mencintai seseorang!" jawab Putri mendekati mobil minibus hitam sudah turun Parhan berdiri disamping tepian jalan.
"Oscar?" balik tanya penasaran Raihan.