Lipstik ~Novel~

Herman Siem
Chapter #12

Manja Tapi Tidak Wajar

Berdiri dibalik jendela dalam ruangan tengah, wajah tua mengeriput hampir tidak bisa menahan sedihnya. Tatapan dua matanya jelas melihat canda tawa manja cucunya itu tidak sengaja menarik turun Parhan dari mobil.

"Putri!

"Ayah! Ayo, Yah!" di tariknya Parhan main hujan-hujanan.

Rintik hujan makin terasa menusuk sembilu nadi terangsang dingin sekujur tubuh. Terdiam berdiri disamping sudah basah bermandikan air surga.

Lekukan tubuh langsing seksi terbalut seragam putih abu-abu makin kentara jelas terlihat. Hentakan pijakan dua kaki berselimut sepatu kets hitam menghempaskan genangan air sampai terciprat kewajah Parhan.

Parhan tersenyum, wajahnya menahan dan hasrat terasa makin tertahan sampai ubun-ubun kepalanya. Setelan jas hitam menyelimuti kemeja putih, semuanya sudah lepek basah. Apalagi dasi biru bermotif garis-garis juga sudah lepek.

"Ayah sini!" makin bahagia Putri menarik Ayahnya ikuti langkah dua kaki anaknya berputar-putar.

Sambil berputar, dua matanya diam-diam mencuri rona bahagia wajah anaknya makin ingin sekali memeluknya.

Sedih hancur hatinya Ati, dari tadi dua matanya memancing hatinya ikut beranjak sedih. Tidak tahan dengan apa yang di lihatnya diluar halaman rumah sudah basah dengan rintik hujan.

"Ayah ... Ayah ... Jangan ... Hahahahahahah ..." makin tidak tahan sedih, dirinya tidak lagi ingin melihat kemanjaan cucunya, tapi makin ada ketidak wajaran.

Ati tidak tahan, lalu dirinya beranjak jalan masuk kedalam kamar. Hatinya seraya marah, seakan ada sesuatu yang di sembunyikan dalam dirinya.

Hujan makin deras turun, makin membuat dingin relung hati yang basah oleh rintik hujan. Kini dua wajah saling menatap, dua tangan saling memeluk beratap langit sendu dan rintik hujan.

Colekan telunjuk tangan kanan Parhan sempat menyentuh bibir basah anaknya itu masih terselimuti lipstik warna merah.

Tapi balasan Putri malahan memeluk erat Ayahnya itu, seraya dirinya tidak ingin pergi di tinggalkan Ayahnya menjauh.

"Yah, jangan pergi tinggal'kanku," suara pelan Putri tersamar rintik hujan.

Tapi jelas didengar Parhan, kini dia juga makin erat memeluk anaknya.

Mungkin tidak wajar hubungan antara anak dan Ayahnya seperti itu. Tapi kenapa Parhan seraya diam menyambut kesepian anaknya, yang selama ini sungguh memimpikan perhatian lebih dari Nadira.

Lihat selengkapnya