"Ayah ..." terdengar panjang manja suara panggilan Putri.
"Ayah akan jemput Bundamu, Put. Ban mobilnya kempes. Bunda tidak bawa ban serep," tetap saja dua tangan manjanya Putri tidak ingin lepas dari pinggang Parhan.
Sedikit mengintip dari balik celah pintu, dua mata Ati jelas melihat sungguh memang makin tidak wajar. Husapan halus telapak tangan Parhan mengusap wajah kecemasan anaknya.
"Ayah ..." lagi kemanjan makin terdengar.
Putri mengejar pelan Parhan kelihatan hanya kenakan kemeja putih dan masih bercelana panjang hitam. Tangan kanannya menenteng jas hitam dan dasi merah tua terus diikuti Putri dari belakang.
"Ayah tidak lama, Putri. Kasihan Bunda kamu. Dia pasti butuh pertolongan Ayah," tidak jadi Parhan masuk, dia hanya berdiri didepan pintu kamar.
Putri tersenyum sesaat melihat bekas kecupan lipstik membekas disebelah kiri kerah kemejanya Parhan. Tapi Parhan masih tidak sadar, mungkin itu yang bikin senang Putri terdiam menunggu didepan pintu.
Parhan cepat masuk kedalam kamar, hanya tersemyum Putri berdiri belakangi pintu. Mungkin kecupan lipstik merah itu akan meninggalkan jejak dan akan di temukan Bundanya.
Tidak tahu apa yang sedang bikin tersenyum dalam benaknya Putri. Apakah dirinya senang kalau kecupan lipstik bekas bibirnya sampai ketahuan Nadira.
"Kamu disini saja. Ayah akan bantuin Bunda," sekilas bingung Parhan melihat anaknya itu cuman mesem-mesem.
Padahal Parhan kali ini pakai baju santai. Cuman pakai kaos biru hitam kerah dan celana levis warna biru tua bersepatu kets hitam.
"Kamu kenapa, Put?" mungkin ada yang lucu dengan dirinya Parhan.
"Ngak. Ngak apa-apa kok, Yah." jawab Putri menahan geli sambil melirik kedalam kamar.
Tergeletak begitu saja kemeja putih diatas ranjang. Baru saja Parhan akan berjalan tidak jadi. Lagi-lagi hatinya terpanggil dengan sentuhan halus erat dua tangan anaknya memeluk.
"Ayah, jangan lama-lama," sambil mendongak wajah anaknya itu menatap wajah tampan Parhan hanya tersenyum.
Sedih makin hancur perasaan Ati, wanita tua yang mungkin tahu ada apa sebenarnya sudah terjadi dengan hubungan antara Putri dan Parhan, menantunya itu.
Parhan sudah duduk dibelakang kemudi setir mobil, rintik hujan masih turun basahi sekitar. Lambaian tangan terasa melarang kepergian Parhan, ingin segera menyusul Nadira.
Senyuman tergurat jelas dari raut wajah Parhan, hatinya juga terasa berat tidak mau tinggalkan anaknya itu. Tapi perlakukan dirinya pada Putri, semakin sudah jauh dan tidak wajar, segimana perlakuan seorang Ayah pada anaknya.