Persis seperti apa kata Nadira, bila tempat ngopi santai memang bisa meneduhkan suasana hati.
"Ngopi Cinta" Itu adalah nama tempat ngopi santai, banyak kaum urban yang begitu menikmati aneka macam rasa kopi.
Kelihatan kerlap-kerlip lampu dari kejauhan, mungkin itu rumah-rumah penduduk dan villa yang terasa kecil terlihat dari kejauhan.
Langit setelah turun hujan terasa makin bikin hati makin yakin mengagumi keindahan kebaikan Sang Pencipta.
Festival malam langit tersungguhkan cantiknya rembulan sempurna malam dengan miliaran taburan pasir-pasir bermata kucing bertebaran berkilau.
Suasana asri rerimbunan daun masih terasa basah bekas rintik hujan. Beralas tikar lampit, tersungguhkan oleh Barista handal menyajikan kopi mulai terseruput pada bibir setiap penikmat kopi.
Malam itu tidak banyak pengunjung yang datang, padahal dikala setelah hujan. Menikmati secangkir kopi sungguh-sungguh terasa nikmati sekali.
Tapi malam ini para Barisata terasa tidak terlalu sibuk meracik secangkir kopi. Ada dua Barista tampan dan mahir sekali, dia selalu melempar senyuman pada Nadira dan Rena.
"Sesungguhnya, Parhan masih mencintai istrinya. Dia begitu sabar dengan menghadapai istrinya, yang sering Parhan bercerita. Betapa sedih hatinya, terasa kesepian dan butuh perhatian," sambil meneguk bibir cangkir tersenyum Rena menatap Nadiara.
Mungkin apa yang di katakan Rena, sekretaris yang dekat dengan suaminya. Mungkin sudah menggurat rasa bersalah hatinya Nadira, dosen yang selalu sibuk itu.
"Sempat menang saya jatuh hati pada Parhan, suami Bu Ndaria. Saya berusaha meyakinkan Parhan agar dia tetap mereguk cinta bersama saya. Tapi lagi-lagi pikiran Parhan masih ada kesetiaan hati pada istrinya. Ya, walau dia hampir setiap hari mengungkapkan rasa kecewaannya pada istrinya itu," hujaman rasa bersalah makin menusuk sembilu hati Nadira dengan keterangan Rena.
Nadira tidak banyak berkata atau menyanggah semua ungkapan hati Rena. Jika dilihat dari raut wajah Rena, dia tidak bohong memang Rena masih ada rasa menyukai Parhan, suaminya Nadira.
Tatapan sedih mulai jelas gurat-guratan kesedihan menumpuk dalam dua kelopak mata Nadira. Ingin dirinya menangis, tapi buat apa dia cuman menangis dengan segala kesalahan dia selama ini.
"Saya, saya memang egois. Saya terlalu sibuk. Saya tidak pernah menyempat'kan buat mereka berdua. Apalagi buat meluang'kan waktu buat anak suami saya, Ren." mungkin itu jujur atau tidak ungkapan hati Nadira.