Ada rasa cemas terselubung dalam relung mengular pada wajah Parhan, dimana istrinya. Walau gimanapun juga Nadira adalah bagian hidupnya, walau dia sampai saat ini belum bisa menyejukan hatinya. Tapi panggilan manja anaknya membuat dirinya seraya jadi melupakan Nadira.
Dia, lalu turun dari mobil dan tangannya menutup pelan pintu kanan depan mobil. Tersenyum Parhan melangkah jalan, hatinya makin terpanggil anaknya makin tersenyum sebentar lagi Ayahnya segera datang menghampiri.
Tidak tahu kenapa sampai-sampai Putri seakan hatinya runtuh dan luruh, padahal dia tahu bila Parhan, adalah Ayahnya. Tidak tahu kenapa dan setan mana sampai merasuki seorang anak makin menggila mencintai Ayahnya sendiri.
Atau jangan-jangan Parhan sudah memberitahukan sesuatu tentang kenapa dirinya begitu lancar meniatkan perasaannya pada anaknya sendiri. Hanya Putri dan Parhan saja yang tahu semua itu.
Berdiri Parhan berhadapan dengan Putri, sedikit mendongak wajahnya menatap Parhan menatap sendu dua matanya anaknya itu. Sontak tanpa komando dua tangan Putri langsung menyelip masuk celah kiri kanan tangan Parhan.
Hangat terasa pelukan Putri, wajahnya mendarat pada sixpact dadanya Parhan. Pelan tidak ada rasa keraguan dua tangan Parhan bersila dibelakang pundak belakang Putri makin terasa hangat pelukan.
Bibir merah terasa merona makin menyilaukan mata Parhan ingin sekali bibirnya beradu. Intipan sedih makin menjadi, dua mata Ati mengintip dari balik celah pintu.
"Tidak! Tidak!" guman kesel dalam hati.
Linangan air mata makin tergerus basahi wajah tua mertuanya Parhan. Makin manja, terasa makin menggila hubungan cinta terlarang. Intipan mata Ati makin jelas di pertontonkan cucu dan menantunya makin menggila. Bila Nadira tahu, pastinya dirinya akan sangat sedih dan terpukul sekali.
Sedikitpun tidak terbesit rasa cemas atau bertanya terucap dari bibir Putri. Dimana Nadira, Bundanya apakah Parhan sudah bertemu dengannya atau belum. Semua rasa cemas seakan sudah tertutup jeruji cinta terlarangnya.
"Ayah ...! Ayah aku takut ..." manja terdengar sembari canda tawa.
Putri dua tangannya mengelus wajah tampan Parhan sudah membopongnya jalan masuk kedalam kamar.
Buat berdiri dua kaki Ati tidak kuat, hanya terduduk dibalik pintu. Ujung lengan panjang kebaya hijau toska berenda sempat berapa kali menyeka air mata kesedihannya dibantu tangan kanannya. Hati dan wajahnya semakin memanas, seraya mengalahkan amukan kobaran api membakar setiap relung jiwa yang tidak sejalan.
Langkah kakinya berat tapi pasti, masih meradang amarahnya hati dan wajahnya kian berkecamuk rasa marah kini sudah berdiri dihapadan pintu kamar cucunya. Ingin sekali kepalan tangan kanan mengetuk menggedor pintu. Dan ingin sekali getaran bibir keriputnya memanggil dua manusia untuk jadi terpidana, yang sedang dilanda kesetanan itu.