Lipstik ~Novel~

Herman Siem
Chapter #16

Dingin Makin Merasuk Kesedihan

Sorot cahaya lampu mobil minibus silver tidak lagi menerangi selasar halaman rumah masih tersisa basah. Sudah turun Nadira dari mobil, masih tersisa rintik air bulir-bulir hujan bermain pada sekujur body mobil.

Sempat Nadira melirik pada mobil minibus hitam terparkir disamping mobil milknya. Tandanya Parhan sudah pulang, mungkin Nadira tadi tidak sempat memberitahukan pada suaminya bila tadi dirinya bertemu dengan Rena.

Mungkin secangkir kopi hangat tadi sudah mengering juga merasuk keseluruh tubuhnya yang tadi lepek basah oleh rintik hujan. Baru saja tangan kanannya akan meraih handle pintu, pintu ternyata tidak tertutup sedikit terbuka.

Dari tadi mungkin sudah kering derian air mata dan terasa lelah hatinya Ati. Dia hanya terduduk disopa setengah belakang tubuhnya bersandar pada empuknya sopa dan dua matanya terpejam nyenyak. Langkah pelan Nadira mendekati, tas kecilnya di lemparkan saja pada atas meja.

"Bu. Bu bangun," sambil membungkuk Nadira bangunkan Ibunya.

Terasa berat dua mata Ibunya terjaga, masih terngiyang dalam benaknya makin terasuk kesedihan kian menyelimut. Tersenyum tatapan Nadira ingin membiarkan saja Ibunya tertidur, tapi hatinya kecil tidak merasa tega.

"Bu, bangun." sentuhan hangat telapak tangan kanan anaknya sekali mendarat pada pipi kakan membuat Ati terjaga bangun.

"Nadira kamu sudah pulang?" sambil dipapah berdiri Ati dengan dua tangan anaknya.

"Disini dingin sekali. Lebih baik Ibu pindah saja tidur dikamar," dua tangan hangat anaknya itu mengantarkan masuk Ibunya tapi terhenti depan pintu kamar.

Tatapan dua matanya hanya menoleh pada kamar cucunya yang mungkin dia sekarang ini sudah terlelap dalam tidur. Semoa saja Putri malam ini tidak bermimpi tentang kebersamaan dirinya dengan Parhan, mungkin itu yang terpikir dalam benaknya Ati.

"Parhan sudah tidur, Bu?" baru saja dua kaki Ati akan mengajaknya masuk tapi tidak jadi. Hanya anggukan saja jawaban Ati.

"Ya sudah. Ibu tidur saja." sambil bukan pintu kata Nadira.

Ati kemudian masuk kedalam kamar, sempatnya lagi dua matanya perhatikan langkah anaknya itu berjalan kearah kamarnya. Mungkin juga Nadira sudah lelah dan ingin segera tidur, baru saja Nadira akan mendorong pintu tidak jadi.

Lihat selengkapnya