Bentangan sawah terhampar hijau, bulir-bulir padi sebentar lagi akan merajuk kuning keemasan hanya menjuntai berisi kebawah. Jejak sepasang kaki masih tertinggal dalam lumpur basah terus berjalan susuri tanaman padi. Dua kakinya kian terbenam dalam setengah air tidak terlalu keruh warnanya.
Langit pagi tampak terasa ikut bahagia, sedikitpun tidak ada serpihan awan kelabu menyambangi kebahagian semesta. Terhampar hijau nan cantik sekali perbukitan dari kejauhan tapi masih terbalut setianya serpihan kabut putih.
Terduduk sedih, seraya hati masih tidak menerima membiarkan cintanya pergi begitu terasa makin sakit hati saja. Dua kaki Rena putih bersih hanya setengah menjuntai dress biru tuanya dipakai siang itu, tubuhnya tidak lagi terbalut setelan rapi blazer.
Wajahanya juga tidak seanggun dan secantik lagi, tidak terbalut make'up dan polesan lisptik menyelimuti tipis bibirnya. Wajahnya hanya ada gundah gulana makin tidak ingin beranjak pergi, padahal relung hatinya makin tersayat sakit tidak menerima.
Dua kakinya sudah basah terbenam setengah air seraya terpanggil tanaman padi agar berlama-lama saja dua kakinya terbenam dalam genangan air. Tidak jauh darinya kelihatan membungkuk membelakangi dirinya, dua tangannya cekatan sekali menarik gulma yang menghantui tanaman sepanjang hamparan tanaman padi.
Tersenyum menegakan tubuh tuanya sambil melepaskan topi capingnya. Wajahnya tersenyum kearah anaknya yang masih terduduk diatas pematang sawah.
"Jrub ... Jrub ..." dua kaki melangkah terpeluk lumpur basah terkelitiki akar padi terpendam sepanjang langkah.
"Biar'kan burung itu terbang bebas pergi dari sangkarnya. Bila burung itu masih mengingat bau sangkarnya, pasti burung itu akan kembali lagi," sudah berdiri Lukman, Ayahnya Rena.
Kaos putih dan celana panjang hitam sudah lepek basah, cipratan lumpur basah menempel pada wajahnya. Kumis tebal putih memayungi bibir tebal bermata kubil beratap alis putih tebal. Begitu bijaksananya sikap seorang Ayah pada anaknya yang sedang terdiam larut dalam lara kesedihan.
Tangan kanan mencekek gagang teko kaleng berwajah kusam, lalu ujungnya menungging kearah cangkir kaleng. Air mengalir deras tidak terlalu penuh lalu cepat di teguknya pada bibir Lukman sesaat tersenyum, dahaga hausnya kini sudah terbayar.
"Biar'kan Parhan terbang bebas. Dia, pasti sekarang ini sudah mendapatkan hangatnya sangkar yang selama ini di idam-idam'kan. Sangkar milikmu, mungkin tidak secantik sangkar yang dimiliki Parhan," terduduk sudah Lukman disamping Rena.
Raut wajah Rena masih berkubang tidak terima, walau semalamn baru saja dirinya diajak ngopi bareng dengan Nadira. Rena yang sempat jatuh hati dan sempat membujuk yakinkan Parhan agar meninggalkan saja istrinya, tapi karena ada rasa tidak tega. Atau mungkin sama-sama punya rasa hati perempuan. Jadi bikin Rena terpaksa membiarkan cintanya kembali pada pelukan Nadira.
Tapi setelah membiarkan kenapa hatinya tidak terima dengan keputusan setelah hanya diajak ngopi. Tangan kanan makin berkerut karena dingin sudah menyodorkan cangkir kaleng pada kewajahnya.
"Minum. Agar hatimu dingin tidak terbakar api panas yang terus membakar jiwamu itu. Lagian'kan Ayah sudah mewanti-wanti kamu, Rena. Hubungan kamu dengan Parhan sudah salah jalan. Hubungan kamu dengan Parhan, ibarat besi panas yang ditempa makin terasa panas saja. Ayah ini sudah tua, Ayah tidak mau melihat kamu berjalan bahagia diatas kesedihan orang," cangkir kaleng di letakan samping teko kaleng karena Rena tidak mau minum.
Dua kaki Rena makin menghujam terbenam dalam lumpur basah, seraya lumpur basah jadi pelampiasan kemarahannya. Wajahnya makin jelas tergambar kecewa, walau dirinya sudah melepaskan membiarkan Nadira mencoba kembali mencairkan keegoisannya. Agar dia bisa mencoba kembali segimana kewajibannya sebagai seorang istri.
***