"Apa salah aku mencari perhatian kasih sayang dari Ayah, Bun?!" terduduk Putri sambil melempar tas ranselnya tidak jadi di gemblokan pada punggungnya.
Ati berusaha diam sabar tenangkan cucu dan anaknya itu, kelihatan Nadira makin meradang marah tapi sempat tertahan. Sementera Parhan masih terduduk dikursi, di hadapannya masih utuh sarapan pagi yang mungkin mereka semuanya sudah tidak bernafsu buat sarapan pagi.
Terduduk diam merasa serba salah, pandangannya hanya melihat lorong kecil menuju ruangan tengah. Beranjak bangun pelan, tangan kirinya mengendorkan lilitan dasi yang makin mencekek lehernya.
"Selama ini Bunda selalu sibuk dengan urusan dan pekerjaan Bunda. Apa Bunda pernah tahu jika selama ini aku butuh bangat perhatian dan kasih sayang Bunda. Dan apa aku salah mencari semua itu?! Hanya Ayah yang bisa kasih semua itu!" kesal ingin bangun dari duduk tidak jadi lagi.
Sempat wajah Putri mendarat pada dua tumit kakinya, wajahnya menahan sedih dan marah. Benar saja wajahnya kembali di tegakan sudah sembab basah wajahnya dengan deraian rintik air mata.
"Bunda tidak melarang kamu mencari perhatian dan kasih sayang dari Ayahmu, Putri! Tapi apa yang Bunda lihat belakangan ini?! Sikapmu itu tidak wajar sekali dengan Ayahmu!" terduduk kesal Nadira berhadapan Putri.
Ati terduduk di sopa samping, wajahnya melihat Parhan hanya berdiri saja sepintas sinis dilirik Nadira beranjak masuk kedalam kamar. Tidak lama keluar, dua tangannya sudah memegang kemeja putih lalu di lemparkan kearah Putri.
"Lihat itu Putri! Itu'kan bekas kecupan bibir kamu! Lipstik itu sangat mirip sekali dengan kecupan bibir kamu yang membekas dikerah kemeja putih, Ayahmu!" Putri hanya diam melirik bekas kecupan lipstik pada kerah kemeja putih.
"Perhatikan ini! Ini lihat dengan jelas, Putri! Bekas kecupan lipstik ini sama persis dengan bibir kamu itu!" paksa tangan kirinya Nadira menarik dagu anaknya perhatikan kecupan bibir di kerah kemeja putih.
"Bunda tahu. Bunda memang salah. Bunda sangat egois. Bunda selalu sibuk dengan pekerjaan Bunda. Bunda tidak pernah ada waktu dan tidak pernah meluangkan waktu buat kamu dan Ayah. Ayah pasti haus akan perhatian dari Bunda. Ayah selalu kesepian dengan kesibukan Bunda. Tapi tidak harusnha begini, Yah. Masa Ayah bermanja-manjaan dengan anak sendiri! Itu tidak wajar, Yah!" sedihnya Nadira terduduk disamping Ati.
"Kecupan lipstik yang tertinggal dikerah kemeja putih Ayah ini. Benar bibirku, Bunda. Tapi yang satu ini bukan bekas kecupan bibirku," tertahan menahan marahnya Nadira atas pengakuan anaknya.