Lipstik ~Novel~

Herman Siem
Chapter #19

Diam Sejuta Marah

"Ganti dulu seragam kamu, Put."

"Nek, ngapain kesini?! Sana keluar saja!" baru saja masuk Ati berdiri depan pintu lemari sudah diusir keluar cucunya.

Tangan kanannya terhenti pada tumpukan pakaian tertata tersusun rapi sekali aneka model pakaian Putri. Sudah di ambilnya setelan piyama panjang warna biru tua ditangan Ati.

"Ganti seragam kamu dengan ini, Put." pintu lemari sudah tertutup.

Ati duduk disamping cucunya kesel menggeser duduknya terpentok besi ranjang. Setelan piyama panjang biru tua di letakan diantara mereka berdua duduk diatas ranjang.

"Hihhh! Nenek! Aku tidak suka pakai itu!" memang Putri tidak pernah pakai setelan piyama sekarang-sekarang ini.

Dirinya lebih nyaman pakai dress atau daster pendek. Tidak tahu kenapa itu, atau mungkin hanya sekedar buat cari perhatian saja dari Parhan. Cuman Putri doang yang tahu, tapi sekarang ini Neneknya seakan tidak mau cucunya itu memakai dress atau daster pendek lagi.

"Nenek mau kamu pakai piyama itu!" tegas terlontar dari mulut Ati.

"Nenek'kan tahu aku ngak suka pakai piyama itu. Bikin gerah tahu, Nek!" bantah Putri kesal naikan dua kakinya keatas ranjang.

Masih lengkap berseragam putih abu-abu, kini Putri terbaring. Kepalanya beralas bantal senada warnanya dengan sprei putih bersih.

"Nek, apa aku salah jadi begini? Aku juga ngak tahu kenapa jadi begini?" sedih wajah Putri.

"Aku ngak tahu, kenapa aku sampai jadi begini sama Ayah? Aku sadar itu tidak benar'kan, Nek?" makin sedih wajah Putri.

Mulai ada rasa sesal menyelimuti wajahnya, berapa kali dua tangannya mengusap menutupi wajahnya. Malu, sedih dan sesal sudah bercampur jadi satu merasuki wajahnya.

Terpanggil sedih dan bingung Ati, dia ingin bicara tapi harus mulai dari mana dulu untuk berkata. Makin jelas tergambar diraut wajahnya, seperti ada keprihatinan yang sulit terungkap.

"Lekas ganti seragammu itu," beranjak bangun Ati dari duduk.

Dirinya seakan tidak tega membiarkan sendiri cucunya itusedih dalam kepiluan hatinya. Dia mulai sadar, tapi sudah terlambat. Pastinya karena gara-gara hanya haus kasih sayang dari Nadira. Sampai mencari kasih sayang perhatian yang dia dapatkan dengan cara salah dan terlarang.

Sedih tidak bisa berbuat banyak, saat tatapan Ati perhatikan dua tangan cucunya itu berhenti diatas perutnya. Dua tangannya seperti merasakan ada sesuatu tertanam dalam perutnya.

Lihat selengkapnya