Acuh dan diam makin tergambar jelas pada wajah Nadira, kini mungkin dirinya akan kembali lagi. Akan kembali melupakan dan tidak lagi menunaikan fungsi dan tugasnya sebagai wanita yang telah memiliki keluarga.
Tidak banyak tanya, seraya hatinya mantap tertutup untuk tidak bertegur sapa pada suami dan anaknya. Sudah terlihat cantik wajahnya, tapi itu bukan alat-alat make'up dan bibir merah milikinya Putri yang bikin cantik wajahnya Nadira.
Apa Nadira mau balas dendam dengan perbuatan suaminya terhadap anaknya beralasan haus akan kasih sayang dan perhatian saja. Lihat cara berpakaiannya, tidak biasanya dia pakai celana legging ketat warna merah senada warna bibirnya, kini malahan di pakainya.
Kaos ketat merah muda tapi berselimut jaket kecil, kelihatan seksi sekali penampilan Nadira. Biasanya Nadira tidak memakai semua itu saat kekampus, pasti semua mahasiswa berdecak kagum dan pasti cuman bisa menelan ludah.
"Kamu tidak sarapan pagi dulu, Nadira?" ajak Ati cuman di cuekin saja.
"Ibu, sarapan saja!" ketus sahut Nadira.
"Prug ... Prug ..." suara jejak langkah jalan ujung sepatu hak tinggi warna merah tua sudah mengajaknya melangkah keluar.
Parhan cuman diam, ingin ludahnya ditelan lagi masuk kedalam mulutnya saat melihat body menawan istrinya itu.
Sontak beranjak bangun Putri dari duduk mengejar langkah jalan Nadira kelorong kecil menuju ruangan tengah.
"Bunda?"
Hanya diam cuek tatapn sinis Nadira sekali lagi mengelus sapuan ujung lipstik merah tua pada bibirnya.
Tersenyum sinis Nadira perhatikan Putri sudah lengkap dengan seragam putih abu-abunya. Tapi rambutnya tidak lagi secantik kemarin setelah dipotong oleh Bundanya.
"Bunda?"
"Kamu ikut saja dengan Ayahmu!" ketus jawaban Nadira beranjak jalan keluar.
Diam berdiri menahan sedih Putri, dia mulai sadar bila Bundanya itu sekarang benar-benar marah padanya. Masih sinis tatapan Nadira dari balik kaca mobil sudah mundur pelan kebelakang. Tidak ada senyuman sedikitpun dari wajahnya, mobil makin mundur dan setir dibanting kiri dan roda ban sudah lurus.
Mobil berjalan tinggalkan Putri sendiri diteras depan rumah. Wajahnya kini makin terusik dengan kemarahan Nadira, kepalanya menunduk sedih seraya ingin mengusap perutnya.
Cepat berbalik kebelakang, lalu tanpa pamitan pada Ati dan Parhan. Tangannya sudah mengambil tas dan segera di gemblokan pada punggung belakang menyangkut pada bahu kiri kanan.
"Putri! Putri ... Kamu tidak ikut dengan Ayah?!" panggilan Parhan cuman di cuekin Putri hanya berjalan cepat.
"Putri?" guman sedih dalam hati Ati berdiri disamping menantunya.