Mungkin tidak akan asa lagi bagi Nadira buat melanjutkan biduk rumah tangganya dengan Parhan. Asa itu kian terbenam dalam hati tengah mengaduk larutan garam makin berkutat dalam kemarahannya saat ini dan mungkin selamanya.
Saat hatinya mulai beranjak bangun dari lelap tidur keegoisannya, Nadira berusaha untuk merubah merubah keras hatinya. Tapi ketika dirinya berusaha untuk merubah image seorang dosen super sibuk, malahan semua itu kembali terbentur dengan ketidak yakinan lagi.
Nadira sadar semua kesalahannya, tapi kenapa sekarang hatinya terasa makin ingin terbang bebas seraya terbang lepas mengangkasa dilangit. Makin terpuruk dalam kesalahan terselimut kabut gelap, berusaha merangkak naikpun meminta ampun terasa sulit dalamnya lobang kesalahan menjebaknya.
Hanya ada kemarahan makin membutakan dua matanya terasa tersulut api amarah meluap pada wajahnya. Lipstik warna merah, sapuan foundation dan blush on dan bedak tabur dengan warna sesuai kulit makin merata menyelimuti wajahnya.
Tidak biasanya semua dilakukan Nadira, biasanya sehari-harinya wajah dan berpakaiannya sangat sederhana sopan. Tapi kali ini seperti dirinya ingin jadi pusat perhatian semua mata lelaki.
"Apa aku harus cemburu buta dengan anakku sendiri?" guman gerakan atas babah bibir berselimut tebal lipstik merah.
Dua tangannya sejak dari tadi terus pegang kemudi setir mobil. Dua matanya sendu seraya tidak tahan ingin menghancurkan bendungan air mata. Hanya berkaca-kaca merona memerah sambil lirik kanan keadan luar jalan yang mulai sekali banyak pejalan kaki.
"Putri itu anakku. Dia darah dagingku," dua matanya terdiam seakan makin terenyuh.
Kaki kanannya pelan menginjak pelan rem, mobil berjalan pelan. Jemari tangan kiri mulai mengoper perseneling "N" mobil berhenti ditepian jalan. Berjejer berhenti dibelakang mobil minibus hitam, banyak juga mobil berhenti ditepian jalan menurunkan murid
Tapi kali ini dua matanya makin tidak menahan bendungan deraian kesedihan, makin terpancing sedih bercampur cemburu buta. Pelukan hangat Parhan makin mendera menelisik dalam sukma anaknya itu makin yakin, bila Parhan bukan hanya sekedar Ayah baginya. Tapi lelaki yang bisa memahami jiwanya yang sekian lama ini haus akan kasih sayang dan perhatian.
Lirikan banyak pasang mata mengarah pada mereka berdua, tapi hatinya seakan terkurung rasa masa bodoh yang berselimut cinta terlarang. Apalagi tatapan keyakinan dua wajah sejak dari tadi tidak mau saling berpaling. Buaian dua mata sendu bertabur merona berkaca-kaca beratap keyakinan tidak lekang ingin cepat berpaling.
Hati mulai terpancing tersulut api cemburu yang membakar sendi-sendi dinding relung hati Nadira. Wajahnya makin merona memerah merah makin membakar relung sukma terasa cemburu butanya makin menggila.
"Gila! Gila!"