Lipstik ~Novel~

Herman Siem
Chapter #22

Mengakhiri Hidup

Lilitan tali tembang sudah mengikat pada leher Rena, cuman tinggal salah satu kakinya menendang kursi maka dirinya akan berangkat kesurga atau neraka.

Raut wajahnya sedih terselimuti duka yang mendalam, sedangkan dirinya sudah terasa lelah berusaha meyakinan lelaki yang telah memiliki istri. Bila dirinya bisa memberikan kasih sayang dan perhatian, tapi sayangnya lelaki yang di cintainya itu sepertinya berat buat menerima Rena.

Angin basah terhempas masuk lewat celah jendela tirainya terbuka lebar. Lirikan mata sendu sedih sesaat tersenyum perhatikan hamparan sawah hijau beratap langit cerah.

Raut wajah keyakinan makin mengular yakin mengusik relung hati ingin segera mengakhiri hidup, dengan cara menggantung diri. Kaki kanannya juga seiring sejalan dengan keyakinan hati Rena, ingin segera menendang sandaran kursi kayu berkaki empat.

"Hidup didunia itu hanya kemarin, besok dan hari ini," tidak jadi kaki kanan menendang sandaran kursi kayu.

Lirikan dua mata terdiam menahan kesedihan, saat masuk Lukman tersenyum berdiri dibalik jendela. Kokoh putih lengan panjang, dibalut kain sarung biru salur kotak-kotak mengikat kencang setengah tubuhnya kebawah, mungkin Lukman habis Sholat Dzuhur.

Wajahnya terasa sejuk saat semilir angin basah merasukinya. Hamparan hijau sawah terbentang depan dua matanya beratap langit cerah sendu.

"Kemarin hari, kehidupan yang tak'kan pernah terulang untuk cerita sedih dan cerita bahagia. Kehidupan besok, belum tentu kamu bisa merasakan panjang helaan napasmu, Rena. Kehidupan hari ini, jangan kamu sia-sia'kan apalagi kamu akhiri dengan cara yang tidak sejalan dengan jalannya Sang Pencipta. Sungguh di sayang'kan sekali Rena bila kamu mengakhiri hidup dengan jalan seperti ini, pastinya Allah akan murka sekali padamu. Jangan sia-sia'kan hidup hari ini, kemarin dan besok. Karena sedetikpun hidup sangat berharga sekali. Melupa'kan dia, bukan berarti kamu harus putus asa dan mengakhiri dengan cara begini. Justru melupa'kan dia dengan keyakinan kamu itu. Kamu bisa terbebas dari dosa-dosa yang menyelimuti jiwa dan ragamu," berbalik Lukman tersenyum wajahnya tapi tersirat kecemasan.

Lukman berdiri berlakangi jendela terbuka lebar. Makin terasa sejuk semilir angin basah merasuk bagian belakang tubuhnya terasa dingin. Dua tangan anaknya itu lekas melepaskan tali yang tadi mengikat lehernya, lalu terduduk diatas kursi. Tidak jadi di tendangnya.

"Janganlah kamu menambah dosamu lagi, Rena. Selagi hatimu masih bisa mendapat dan mencintai lelaki yang bukan suami orang. Pergi dan teguhkan hatimu untk mencintai lelaki yang memang pantas untukmu," makin prihatin Lukman dirinya hanya terduduk diatas ranjang beralas kasur empuk.

"Tapi Ayah? Sesungguhnya hati ini sudah merasa yakin untuk pergi darinya. Tapi semakin yakin aku pergi meninggalkan dia, tapi semakin berat hati ini untuk pergi meninggalkan Parhan. Aku sadar, Yah. Aku sudah berdosa! Karena merenggut lelaki yang telah beristri. Tapi apa aku salah? Mendekati lelaki yang selama ini tidak pernah mendapatkan sentuhan kasih sayang perhatian dari istrinya?!" beranjak bangun dari duduk Rena seraya membantah.

Dirinya berdiri berhadapan Ayahnya hanya tersenyum masih terduduk diatas ranjang. Lalu dia juga beranjak bangun, mungkin Lukman tidak kuasa lagi untuk melerai keras sikap hati anaknya itu.

"Salah dan tidak salah itu hanya ada dalam keyakinanmu, Rena. Tapi secara naluri hati seorang istri. Apa lagi dia sama-sama dengan kamu seorang wanita. Pasti dia sedih sekali, bila dia tahu suaminya telah kamu rampas darinya. Pastinya dia merasa'kan kesedihan marah yang teramat sangat. Dosa atau tidak dengan apa yang kamu lakukan? Semua itu hanya dirimu yang merasa'kan," berdiri belakangi Rena, tambah nasehat lagi Lukman lalu beranjak jalan keluar dari dalam kamar.

Sedih bingung kini mulai menguliti hati yang tadi terselimuti keegoisan. Mungkin kini racun nasehat kebenaran Lukman mulai menggerogoti kerasnya hatinya Rena. Wajahnya tersenyum seraya dikelitiki dengan hamparan hijau sawah yang bergoyang-goyang menari-nari terhempas semilir angin.

Lihat selengkapnya