Lipstik ~Novel~

Herman Siem
Chapter #23

Tidak Mungkin Bisa Kembali

Dua pasang mata saling menatap, terasa sendu berbinar berkaca-kaca dua mata Nadira. Terasa masih ada asa dalam bahtinnya untuk merasuki sukma jiwa suaminya sempat mengais kasih sayang dan perhatian darinya.

Bibir tipis berselimut sapuan tebal lisptik merah tidak mudah memancing hasrat bibir tebal seksinya Parhan, padahal dia berdiri tidak terlalu jauh.

Sontak hentakan dua tangan mendorong mundur Parhan terdiam berdiri disamping istrinya mungkin dia kecewa kenapa bibirnya sampai tidak bisa bikin terpancing bibir tebal suaminya.

"Maaf Bunda, aku telat datang," ucap Parhan wajahnya hanya perhatikan pemandangan di hadapannya.

"Apa yang ada di otakmu, Yah? Sampai-sampai sikapmu itu terlalu berlebihan dengan Putri?!" apalagi Nadira tidak mau melihat wajah suaminya itu.

Nadira beranjak jalan, apa karena dahaganya sekarang memanggil buat menyeruput kopi yang sejak dari tadi sudah dingin.

"Apa karena kamu sekarang ini menghukum kesalahanku, Yah? Dengan kamu seperti meluapkan amarahmu dengan sikapku selama ini. Tapi? Putri itu anak kita!" sambil membungkuk setengah badannya, tangan kanan meraih ponsel dan tangan kirinya menarik tali tas kecilnya.

Dua Barista tampan cuman diam tapi mesem-mesem, tangannya pura-pura menggeletak apa saja. Tapi wajahnya masih perhatikan Nadira siap-siap beranjak jalan pergi meninggalkan Parhan.

"Ayah, tahu dan sadar dengan semua yang sudah terjadi, Bun. Semua itu hanya pelampisan kekecewaan Ayah dengan dengan sikap Bunda. Ayah tahu semua itu tidak wajar. Tapi semua ini sudah terjadi, Bunda!" ada rasa menyesal tersirat jelas diraut wajahnya Parhan.

***

Nadira merogoh selembar uang kertas lima puluh ribuan lalu di geletakan pada meja bersamping cangkir kopi utuh tidak dingin lagi. Parhan hanya berdiri, dua matanya hanya menantap langkah jalan istrinya yang pergi meninggalkan dirinya.

"Pak, mau kopi?" tawaran Barista sudah berdiri dihadapan Parhan.

Lihat selengkapnya