Tersenyum wajah Putri, mungkin dirinya lupa bila senja mulai datang merasuki dua matanya. Juga makin menyengat sinaran kuning sunset terasa dekat depan matanya.
Kepakan paralayang dengan aneka sayap warna makin menghiasi langit Puncak Bogor. Paralayang Puncak Bogor pasti akan menagih kembali pada adrenalin yang berani untuk terbang membawa seluruh tubuh kita. Terbang jauh melayang merasakan sensasi, seraya terbang layaknya burung sedang melintasi langit kedatangan senja.
Pasti di bawahnya, dua mata akan tersungguhkan betapa indahnya jejeran pohon teh yang kian menghijau menghiasi setiap lekukan undak-undakan pohon teh.
Apalagi bila senja kalah terbang dengan paralayang pasti dua mata akan tersungguhkan keindahan panorama sunset dari atas ketinggian. Betapa indahnya dan betapa indah lukisan semesta langit karya Sang Pencipta yang selalu memanjakan dua mata.
"Pastinya paralayang itu akan membawa kita terbang jauh kelangit itu, Putri. Sangat terasa sensasi terbang bak penguasa langit, bagai burung terbang kepakan sayap kembarnya yang sedang melintasi langit menguning. Kamu mau terbang dengan paralayang itu, Putri?" terumbar senyuman Raihan berdiri disamping Putri wajahnya dari tadi hanya mendongak kelangit mulai menguning sedikit silau dengan sengatan sinar matahari senja.
Lirikan senyuman pada Raihan, saat tangan kanannya mengelus perutnya. Raihan tahu bila Putri tidak akan terbang, karena ada sesuatu berharga tertanam benih dalam rahim saat itu.
"Loe, mau terbang sama gua, Put?" sudah berdiri Raihan dibelakang Putri.
Dua tangan Raihan seraya mengajak terbang dua Putri. Masih lengkap seragam putih abu-abu mereka berdua. Lirikan senyuamn wajah Putri sempat mampir menoleh senyuman pada wajah Raihan.
Dua tangannya ikut bergerak naik turun, bagai kepakan kembar sayap burung terajak rangsangan dari dua tangan Raihan. Ramai kawasan paralayang di kawasan Agrowisata Gunung Mas, Puncak Bogor. Mereka mungkin saat ini berdiri diatas ketinggian 259 meter dari atas permukaan laut.
Butuh nyali gede dan pastinya adrenalin akan memacu jantung makin berdetaak kencang saat akan take off. Ketika saat berada diatas langit, dua lobang hidung akan menghirup udara bebas bersih dan dua mata tersungguhkan keindahan panorama alam dengan ketinggian hingga 1.300 mdpl.
"Kalau loe mau terbang? Loe, saja sendiri Raihan. Walau nanti diatas sana, aku akan iri melihat kamu terbang bebas bagai burung menikmati keindahan alam ini. Tapi loe, tahu'kan?" dua tangan Putri terasa lelah dengan mengikuti gerakan Raihan kembali berdiri lagi disamping Putri.
"Loe, aja deh terbang sendiri, Ar." tiba-tiba Oscar berubah pikiran tidak mau terbayang paralayang dengan Arsi sontak kesal. Padahal mereka berdua siap akan terbang dan tubuh mereka sudah memakai peralatan pengaman.
Sampai instruktur berhenti saat dia mencoba menaikan parasut saat ada hembusan angin diatas puncak. Pada waktu parasut sudah membumbung tinggi, tapi tidak jadi.
Untung saja instruktur sabar bangat saat Oscar mengurungkan niatnya tidak jadi terbang paralayang dengan Arsi. Arsi tahu kenapa sebabnya Oscar tidak jadi terbang bersamanya, lirikan sinis dua matanya sekilas melihat pada instruktur melepaskan tali pengaman dari tubuhnya Oscar.
Kesal makin tidak terbendung Arsi setelah dirinya lepas dari tali pengaman paralayang. Dia tahu kenapa Oscar tiba-tiba tidak jadi terbang bersamanya.
"Pasti Oscar cemburu?!" guman kesal dalam hati Arsi.
"Car!" makin kesal kenapa Oscar menghampiri Putri yang jelas-jelas sedang bersama Raihan.
"Rosi! Ageng sini loe!"
"Loe jangan nyuruh gua naik paralayang itu, Ar? Loe'kan tahu badan gua gimana?" disahutin duluan Ageng ketakutan juga kalau-kalau disuruh Arsi naik paralayang.