Rintik hujan makin deras sepanjang jalan. Pasti betapa senangnya daun teh menghijau basah sekujurnya tersirami air sejuk dari langit.
Jalanan basah genangan air siap meluncur deras dari atas kebawah, karena jalanan makin menurun kebawah.
Ada rasa malu sungkan dua tangan Putri buat memeluk hangat cowok yang kini tidak adalagi harapan buat dapatin dirinya. Basah sekujur tubuh Putri dan Raihan walau kepala mereka memakai helm.
Tatapan mata sendu tidak lagi akan ada asa yang menyurati hatinya. Kini dia makin terhempas jauh terasa kalah ingin menyendiri saja.
"Padahal gua cinta bangat sama loe, Put?" tetap dua tangannya pegang stang kiri kanan motor vespa matic warna marron.
"Maafin gua, Raihan. Loe baik bangat buat gua. Tapi masih ada yang lebih baik dari loe," bahtin Putri kayak mendengar jeritan hati lelaki yang boncengin dia.
"Mungkin loe lebih nyaman dengan lelaki pilihan loe, Put. Gua mungkin ngak pantes buat bayi dan diri loe. Padahal gua mau bangat jadi bagian hidup loe dan bayi loe itu," ungkap ketulusan hatinya Raihan.
Angin basah makin dingin, laju putaran dua roda ban motor terus berjalan menuruni disertai dengan derasnya air juga ikut jalan menurun. Sepanjang jalan dua tangan Putri terasa angkuh, dia sama sekali tidak ingin memeluk lelaki yang sebegitu mencintainya.
***
Terduduk sendiri Ati di sopa ruangan tengah, matanya hanya tajam tapi kosong mengarah pintu terbuka lebar. Sejak tadi dia menunggu anak, cucu dan menantunya tapi ketiga-tiganya belum kelihatan batang hidungnya.
Hanya dingin terasa menyentuh kulit keriput masih berusaha menunggu. Rintik hujan makin deras, makin berkilau lembaran daun-daun hijau saat tersentuh rintik hujan.
Langit mungkin makin lama mendatangkan cerah, lihat saja kilat menyambar dalam gumpalan awan hitamnya. Apalagi sinar matahari terasa saat ini bisa bebas bersembunyi dibalik gumpalan awan hitam, dia tidak dulu menerangi semesta sinar teriknya.
Sunyi sepi makin merasuk dalam peraduan relung jiwa Ati ingin sekali dan tidak sabar hatinya segera menguak tabir yang terpendam selama ini. Mungkin hatinya semakin marah, semakin teriris pedih dengan sikap kemanjaan Putri, cucunya pada menantunya.
"Gletarrr ..." sekali terdengar suara kilat menyambar tapi tidak lantas Ati beranjak bangun buat menuntup pintu.