Lipstik ~Novel~

Herman Siem
Chapter #26

Tidak Ada Kata Cinta

Terasa hancur remuk redam puing-puing cinta tidak mudah lagi terbentuk. Hanya diam seribu kata, bibirnya terasa kehilangan pergerakan buat bicara atau sekedar bertanya.

"Benar kata Ibu, Bunda. Sudah lama Ayah ingin bicara'kan masalah ini. Kalau Putri bukanlah anak kita berdua," sudah berdiri Parhan membenarkan.

"Gletarrrrr ..." suara kilat terdengar lagi.

Makin sedih Nadira beranjak bangun sempat wajahnya melempar senyuman pada suaminya. Wajah Parhan sedikit basah, setelan jasnya juga kelihatan terasa rembes basah.

"Semua berawal dari kesibukan, Bunda. Awalnya Ayah ragu untuk melakukan ini semua pada Putri. Tapi seiring waktu berjalan makin mendera kesepian ini. Makin yakin Ayah melabuhkan cinta ini pada Putri, karena dia memang bukan anakku," terduduk Parhan hanya di tatap sinis Nadira berdiri di hadapan suaminya.

***

Flash Back

"Maaf, Pak. Bayi yang baru di lahir'kan istri Bapak? Bayi itu tidak bisa di selamat'kan. Karena bayi itu ada bawaan gagal jantung," terang Suster pelan sekali suaranya, takut kedengaran Nadira lagi tidur.

Sontak sedih Parhan wajahanya masih perhatikan Nadira tertidur terbaring diatas bangsal.

Hanya sedih, hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa. Takut kalau-kalau saat Nadira beranjak bangun, pasti dirinya menanyakan dimana bayi yang baru di lahirkan.

Ikutan sedih Ati, waktu itu wajah Ibu mertuanya Parhan masih kelihatan muda dan cantik sekali. Ati hanya berdiri disamping bangsal, takut kalau anaknya terjaga bangun dan mendengarnya pasti dia akan sedih sekali.

"Suster sini," pelan panggilan Suster satu lagi dari luar pintu.

Lalu Suster yang berbicara tadi dengan Parhan, dia cepat keluar menghampiri. Kasak-kusuk dua Suster bicara didepan ruangan rawat inap pasien, sempat didengar Parhan.

Lihat selengkapnya