Motor vespa matic warna marron sudah basah bermandi rintik hujan. Sorot cahaya tunggal lampu motor terlihat jelas rintik hujan turun.
Basah lepek sudah sekujur tubuh Raihan dan Putri, mereka berdua berdiri disamping motor. Tidak lantas masuk kedalam rumah atau sekedar berteduh dari rintik hujan.
Ada rasa makin terpanggil jiwa Raihan yang ingin sekali menyentuh relung hatinya Putri. T diapi rasanya hanya ada tolakan halus ketika dua tangan Raihan ingin menyekap dua tangan gadis yang saat ini sedang hamil.
"Put?" bibir basah Raihan memanggil.
Langkah Putri terhenti, lalu wajahnya menoleh pada Raihan selangkah maju mendekati. Harapan hatinya Raihan ingin sekali bisa selalu bersama dengan Putri, tapi harapannya terasa tipis jika dilihat dari raut wajah Putr. Dia seraya tidak berkehendak dengan keberadaan Raihan terlalu lama-lama ada di hadapannya.
"Gua, yakin bisa kasih loe kasih sayang dan perhatian lebih, Put. Kasih gua keempatan buat ngebuktiin itu," hanya senyuman wajah basah jawaban Putri.
"Malam ini akhir dari segalanya. Akhir dari pengejaran cinta tulus loe, Raihan. Tapi sungguh gua minta maaf. Malam ini akhir dari cinta loe yakinin diri gua, Raihan." tandas terasa basah bibir Putri.
"Gletarrrr ..." suara kilat menyambar.
Berdiri tidak bisa melangkah mengajak Putri agar kembali padanya, Raihan hanya berdiri seraya terpatung. Rintik hujan makin bebas bermain pada wajah dan tubuhnya yang tidak lagi akan mengejar cinta gadis yang selama ini di cintainya.
Tersenyum Parhan berdiri didepan pintu seraya menyambut kedatangan gadis yang kini mulai sesungguhnya di cintainya. Dia bukan lagi anaknya, tapi dia adalah bagian dari hati jantungnya yang tidak akan lagi terbiarkan kehilangan kasih sayang dan perhatian.
Terdiam dua mata seraya terpaku, hatinya bertanda tanya melihat jelas pelukan manja dari seorang anak pada Ayahnya. Tapi itu kata hatinya Raihan, dirinya tidak menaruh curiga namun hatinya bergetar mengajak cemburu buta.
Pelukan manja walau ikut basah setelan jas hitam yang dipakai Parhan,. Sudah terduduk Raihan diatas sadel jok motor basah dan helm sudah dipakai pada kepalanya. Tapi dua matanya masih tidak lepas dari pelukan manja seorang anak pada Ayahnya. Sedih masih bercampur cemburu ketika kaca penutup helm di turunkan dan menutup pandangan penglihatannya.
Sorot cahaya lampu motor kini makin jelas memperlihatkan betapa sayangnya seorang Ayah pada anaknya, yang juga masih belum melepaskan pelukannya. Apalagi terasa manja sekali ketika wajahnya Putri bersandar pada dadanya Parhan.
"Mungkin benar kata loe, Putri. Udah ngak adalagi cinta buat gua. Apa ini jawaban loe buat gua?" guman dalam hati Raihan tangan kanannya menarik handle gas motor stang kanan.